Terimakasih Nyepi

Posted by
Processed with VSCO with c8 preset
Kredit Foto : Dokumen Pribadi

Sebelum menuliskan catatan ini, saya ucapkan Selamat Merayakan Hari Raya Nyepi 1941 bagi umat hindu yang merayakannya. Di lain sisi tak lupa saya ucapkan terimakasih pada pemerintah era orde baru yang pada tahun 1983 menetapkan Hari Raya Nyepi sebagai hari libur nasional.

Bagi masyarakat hindu, tentu ini bermanfaat. Khususnya agar dapat menjalani proses peribadatan Nyepi dengan khusyu’. Sementara bagi pemeluk agama lain seperti saya, setidaknya satu hari perayaan ini kita mampu mendapatkan hikmah. Hikmah tersebut yakni kita bebas di hari ini.

Khususnya bebas dari aktivitas yang mengekang dan jauh dari ‘kehendak’. Seperti kerja, kuliah sampai sekolah dan lain-lain. Yang secara umum dibangun atas ketaatan pada jam, kehadiran sampai pencapaian. Semua hal yang menyebabkan mengapa kita kerap kali takut untuk menuruti kehendak kita yang paling fundamen.

Seperti beberapa aktivitas yang saya temui di hari ini. Aktivitas itu antara lain, penuhnya aktivitas ngopi mahasiswa di pagi hari, macet di beberapa situs wisata sampai ramainya gedung bioskop. Benar saja, aktivitas saya hari ini selain tidur yakni ngopi sambil baca-baca topik berita di pagi hari.

Sorenya saya menelusuri jalanan Kota Batu dan menemukan kemacetan jalan di beberapa akses situs wisata. Ba’da maghrib, saya ke bioskop untuk menonton film Dilan 1991. Malam harinya saya kembali ngopi untuk menulis catatan ini. Pertanyaannya, apakah kerja-kerja ini tidak bermanfaat?

Tidak juga, malah bagi saya bermanfaat. Lewat aktivitas ngopi saya akhirnya tahu perkembangan berita ojol, Dwifungsi TNI sampai kasus penangkapan Dr Robertus Robet lantaran melanggar UU ITE. Diketahui Menhub akhirnya memutuskan bahwa aturan ojek online akan berlaku akhir bulan ini. Dwifungsi TNI masih jadi perdebatan lantaran berpotensi menjadi batu penghalang bagi terwujudnya supremasi sipil.

Sementara lewat kasus Dr Robertus Robet , dapat diambil premis bahwa UU ITE memang sarat akan pasal karet. Di lain sisi makin membuat saya berani berspekulasi bahwa jaminan kebebasan berpendapat hanya di maknai secara tekstual oleh negara.

Selain kabar nasional ini, lewat ngopi dan membaca pada pagi tadi saya akhirnya tahu bahwa Hari Raya Nyepi memiliki dua makna yang unik. Diketahui bahwa Hati Raya Nyepi merupakan hari perayaan tahun baru Saka oleh masyarakat hindu.
Tahun baru di tahun Saka biasanya jatuh setelah bulan baru pertama bulan Maret kalender Masehi, atau setelah bulan mati (tilem sasih) bulan Kasanga kalender Saka. Kata ‘kasanga‘ dalam bahasa jawa artinya kesembilan. Oleh karenanya, bagi masyarakat Hindu angka 9 memiliki makna penting.

Makna tersebut terbagi menjadi dua pemaknaan. Dua pemaknaan tersebut yakni makna matematis dan juga mistis. Makna matematisnya adalah bahwa angka 9 jika dikalikan dengan bilangan berapa saja dan hasilnya ditambahkan maka angka tersebut akan kembali ke angka 9.

Misalnya kita pakai 9 x 3 yanghasilnya 27, jika hasilnya kemudian kita pisah menjadi dua digit dan ditambahkan maka 2+7 = 9. Sehingga makna mistisnya , angka 9 memiliki korelasi dengan keyakinan akan keagungan dan kesucian agama.

Unik sekali negeri kita dengan berbagai keanekaragaman ini. Selain keunikan Nyepi, aktivitas ngopi sambil membaca berita pada akhirnya membawakan saya kepada seorang sosok penting. Olga Ladyzhenskaya namanya. Seorang matematikawan asal Uni Soviet yang kebetulan hari ulang tahunnya pada hari ini diperingati oleh Google Doodle.

Ia seorang yang cerdas, karyanya berkontribusi besar pada kemajuan dinamika fluida dalam berbagai bidang seperti ramalan cuaca, oseanografi, aerodinamika serta, ilmu kardiovaskular. Oleh karenanya ia layak mendapatkan Medali Emas Lomonosov oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia pada tahun 2002. Meski latar belakangnya cukup pahit.

Sebab pada dahulunya ia sempat ditolak oleh Universitas Negeri Lengingard. Penolakan terjadi lantaran persoalan politik yang menyangkut sang ayah dengan otoritas Soviet di bawah pimpinan Joseph Stalin.

Dengan melihat kemacetan di beberapa titik akses situs wisata saya akhirnya paham akan satu hal. Bahwa kebahagiaan manusia terletak pada bahagianya orang sekitar, khususnya keluarga. Sampai kerap tak peduli uang dari mana, hujan rintik dari pagi, kemungkinan macet, bahkan mahalnya tiket masuk wisata. Asal keluarga senang, semua mah gampang.

Di dalam bioskop, saya pun belajar banyak hal dari seluruh film Dilan 1991. Akhirnya saya dapat clue kenapa Dilan banyak membikin onar baik di film Dilan 1990 sampai Dilan 1991. Clue tersebut tercermin dalam satu kalimat :

Aku nggak suka dikekang“, kata Dilan.

Dalam segmen ini, saya akhirnya mengecap Dilan perindu kebebasan. Tak heran jika ia banyak menyimbolkan kritik pada saat itu. Sebab jangan lupa, latar waktu adalah tahun 1990. Tahunnya fungsi sosial-politik di bawah otoritas militer. Untung-untungan Dilan nggak jadi target ‘Petrus’.

Banyak hal dengan berbagai pembelajaran yang menurut saya sangat berarti. Khususnya dalam hal mengasah kemampuan analisa saya atas peristiwa maupun sebuah produk budaya seperti film. Terimakasih Hari Raya Nyepi, Warung Enzo dan Film Dilan 1991. Terimakasih telah menambah khazanah intepretasi saya. Terima kasih Ayu, terimakasih sudah menemani.***

(FFA)