Enzo Institute

Posted by

Enzo Institute

 

Hari ini kita menciptakan rekor muri di kolom catatan. Benar saja, hampir dua hari kita tidak tayang. Baik di kolom catatan maupun kolom yang lainnya. Memalukan sekali. Padahal cuma gara-gara Enzo Institute.

Sebuah wadah diskusi baru di warung kopi Enzo. Sebuah manifestasi akan cita-cita buat warung literasi. Dari Iwan, Rifky sampai Andi. Lintas jurusan bahkan lintas fakultas. Parahnya, Enzo Institute hanya sebatas guyonan.

Sebab, Enzo merupakan sebuah warung kopi yang berlokasi di Jalan Tirto Utomo, Landungsari, Malang. Tapi setidaknya disinilah kita bisa bikin kenyataan bahwa tidak selamanya warung kopi bikin bodoh. Apalagi warungnya juga relatif tenang dan tidak banyak menguras kantong mahasiswa. Di lain sisi, bagi saya nama Enzo adalah warung kopi yang paling bersejarah. Inilah nilai lebihnya Enzo bagi saya.

Kelebihannya bertambah tatkala orang-orang dengan perkembangan pesat mulai sering kesini. Siapa lagi kalau bukan Iwan, Rifky sampai Andi. Para organisatoris-organisatoris itu. Sebelumnya juga sudah saya sebutkan satu orang lagi. Seseorang yang visioner dan sering menasehati saya agar mengurangi ‘alter ego’. Namanya bang Cesar.

Jika bang Cesar berbicara soal banyak hal terkait hukum dan pemerintahan, maka Andi dkk lain lagi. Sebab dapat diakui diskusinya meluas. Mulai dari pengalaman masing-masing, keilmuan masing-masing, soal copras capres sampai kepada filsafat. Dalam ranah filsafat kita sedang berdiskusi ikhwal filsafat eksistensialisme.

Terutama kritik Sir Muhammad Iqbal terhadap Jean Paul Satre. Dua duanya adalah filsuf eksistensialis. Hanya bedanya Satre lebih materialistik. Tak heran jika Sir Muhammad Iqbal mengkritiknya. Lah dia seorang eksistensialis-teistik.

Diluar topik filsafat kita juga bicara soal isu copras capres sampai revolusi industri 4.0. Mulai dari problem korupsi dan kepemilikan lahan yang berhektar-hektar. Dari konflik sampai ke unicorn. Dari perang dagang sampai perang dingin.

Semuanya habis dibahas.

Itulah alasan kenapa kolom catatan atau yang lainnya sempat vakum dua hari lamanya. Saya berharap agar hal ini tidak terulang. Sebab di lain sisi, ke-vakuman mempertanyakan sejauh mana komitmen saya dalam menulis. Meski satu hari satu tulisan. Meski jarang dilirik orang. Tak peduli.

Oleh sebab itu saya harus punya waktu sendiri. Terutama untuk menulis. Di lain sisi saya akan teruskan tradisi diskusi ala Enzo Institute. Lumayan buat bahan tulisan. Lumayan buat saling adu gagasan. Dan pada saat inilah kita memang harus sering-sering berpikir abstrak dan struktural. Dua cara berpikir yang didapat dari banyaknya kita baca buku dan berdiskusi.

Dua aktivitas yang ‘katanya’ menjadi pertahanan terakhir bagi manusia. Khususnya dalam melawan kedatangan robot yang katanya bakal merampas pekerjaan-pekerjaan anda !

***

(FFA)

One comment