Debat Jilid II

Posted by

jokwi-prabowo-karya-hari-prast_20180901_154856

Malam itu waktunya debat capres dan saya sedang dirumah. Tidak ngapa-ngapain. Makannya saya niatkan untuk ngopi malam itu. Siapa tau ada nobar seperti debat sebelumnya. Di warung kopi langganan tentunya.

Tak menunggu lama saya izin kepada ayah dan bunda. Waktu itu mereka duduk di depan tv. Rupanya mereka sedang lihat debat capres juga. Yang bertemakan energi, pangan, sumber daya ala, lingkungan hidup dan infrastruktur itu. Hanya saja kali ini ayah-bunda memilih untuk menikmati debat capres sambil merem.

Saya pikir menghayati, eh malah katanya mau tidur. Saya tanya :

Loh ini debat ndak dilihat?

Tidak. Ibu mau tidur saja. Itu ayahmu sudah tidur” kata ibunda.

Berarti nggak nyimak dong?” Tanya saya lanjut.

Enggak. Niatannya ibu tadi lihat sinetron. Tapi semua stasiun TV malah tayangkan debat. Lah materi debatnya ibu tidak paham. Muluk-muluk semua. Padahal realita rakyat Indonesia ya begini-begini saja. Inilah realita rakyat Indonesia. Kalau malam sukanya lihat sinetron.” , Kata ibunda saya.

Mendengar hal itu, saya akhirnya segerakan pamit untuk ngopi. Barangkali memang kedua orang tua saya sedang turun mood untuk menonton debat pilpres kedua ini. Mungkin terlalu monoton? Atau yang lainnya ? Entah.

Tapi yang jelas debat itu dibuatnya sebagai reramai pengantar tidur. Dengan narasi normatif sebagai lagunya. Dan janji politik sebagai bahan untuk mengandai dalam mimpi. Tak lama kemudian saya sampai di warung kopi. Hal yang serupa terjadi. Betapa kagetnya.

Orang-orang di warung kopi bukannya nonton debat pilpres. Malahan mereka sedang asik untuk menonton Piala FA di U-TV. Saya sendiri tidak tahu alasannya mengapa. Yang jelas mereka sangat berkhidmat waktu itu. Padahal suasana warung sedang padat-padatnya. Letaknya di pinghir jalan pula.

Kini saya duduk untuk melebur menjadi satu dengan mereka. Alangkah kagetnya, ada dua bocah yang sedang asik mengobrol sambil menikmati bola. Benar saja, ditempat mereka sedang menebak siapa yang akan menang dan berapa skornya. Saya kuping pelan-pelan, eh rupanya mereka sedang melakukan judi bola.

Heran. Akan tetapi, jika mengaca dari perkataan ibunda tadi bagi saya cukup nyambung. Inilah kehidupan yang paling dasar bagi rakyat. Tak perlu janji muluk-muluk tapi lakukanlah yang terbaik. Sebab, yang diketahui rakyat kita hanya bagaimana untuk makan di hari esok. Atau bagaimana untuk terhibur setiap hari, meskipun dengan hanya menonton sinetron.

Di lain sisi, mengaca pada kejadian diatas setidaknya kita bisa ambil satu kesimpulan besar. Bahwa antusiasme masyarakat kita sedang turun. Meski hal itu terjadi di lingkungan saya saja. Entah di daerah lain bagaimana. Namun yang jelas, baik paslon dan kubu haruslah berbenah lebih baik lagi. Khususnya di era kampanye yang umurnya makin habis ini.

Soal kondisi forum alhamdulillah bagi saya sudah cukup baik. Sebab, sudah tidak ada lagi ada riuh-riuh yel-yel maupun politik tepuk tangan. Para hadirin relatif lebih tenang pada debat kali ini. Sementara soal analisis argumen para paslon, saya katakan tidak jauh berbeda dengan kondisi di debat pertama.

Pak Jokowi lebih beruntung sebab beliau memahami betul bagaimana kinerja pemerintah. Beliau punya pengalaman banyak disana. Sebab beliau presiden yang masih aktif. Hanya saja bagi saya, Pak Jokowi pada kali ini seperti kampanye capaian pemerintah. Sementara soal gagasan, relatif kurang. Soal penjabaran data pun, masih layak untuk diragukan validitasnya.

Pak Prabowo juga tidak banyak berubah. Mungkin karena tidak mengaca pada debat sebelumnya. Apalagi mempelajari seni debat seorang Joko Widodo. Pak Prabowo kurang dalan dalam hal gagasan. Kebanyakan malah menunjukkan sikap pesimistis. Seperti pada saat pertanyaan terkait revolusi industri 4.0. Eman.

Dalam hal pengungkapan data pun ia kurang jujur dan terbuka. Soal kepemilikan tanah misalnya. Akibatnya ia harus menanggung malu lantaran Pak Jokowi memaparkan luasnya tanah milik Pak Prabowo di Aceh. Khayalan saya tentang adanya pembagian tanah apabila Pak Prabowo jadi pun buyar se buyar-buyarnya. Sebab secara tidak langsung hal ini mencerminkan bagaimana ketimpangan penguasaan tanah di negeri kita.

Pak Prabowo tidak bisa mengelak bahwa ia seorang tuan tanah. Malah ia jujur bahwa data itu benar. Sekalipun Pak Prabowo dengan tegas akan mengembalikan tanah itu jika memang tanah itu menjadi kepentingan nasional. Sekalipun dengan kalimat monohok yang bunyinya begini —— “lah daripada dikuasai asing, lebih baik saya yang kelola“.

Apabila disandingkan dengan gaya berkampanyenya yang menitik beratkan pada keadilan ekonomi ya jelas ndak nyambung. Pak Prabowo masih banyak terseret pada beban masa lalunya sementara Pak Jokowi masih terpatri dalam capaian pemerintahannya. Boleh mempelajari itu, akan tetapi jangan lupa soal gagasan. Gagasan yang seharunya di perdalam, yang secara keseluruhan termanifestasi dalam kerangka visi misi.***

Salam kuda lumping, eh kuda unicorn.

(FFA)