Gunung Pundak

Posted by
2019-02-17 11667448212..jpg
Puncak Gunung Pundak

Gunung Putuk Sewur dan Gunung Pundak merupakan dua gunung yang sudah sangat familiar bagi kalangan pendaki. Terkhusus pendaki yang berdomisili di Jawa Timur. Secara detail, dua gunung ini berada di Desa Claket Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Dua gunung ini pun masih masuk dalam pengelolaan Taman Hutan Raya Soerjo.

Singkat cerita, ketika liburan Hari Raya Idul Fitri tahun lalu saya bersama rekan saya sempat mengunjungi dua gunung ini. Awalnya, kami hanya berencana mendaki ke Gunung Pundak saja. Akan tetapi rencana tersebut berubah. Sebab kami pada waktu itu memilih jalur pendakian via Gunung Putuk Sewur.

Kami berangkat sekitar pukul 20.30 malam dari Krian, Sidoarjo Jawa Timur. Jarak yang begitu dekat membuat kami sampai di daerah Pacet, Mojokerto sekitar jam 21.15 malam. Jujur sejak kami menyukai aktivitas pendakian, kami selalu memilih untuk mendaki pada malam hari. Selain tidak tersengat sinar matahari, pendakian pada malam hari juga mendorong kita agar lebih cepat sampai ke tujuan.

Sesampainya di pertigaan pos polisi Pacet Mojokerto kami bertanya kepada ibu penjaga sebuah toko yang masih buka di sana. Ibu tersebut langsung memberi tahu kami untuk mengambil arah Trawas dan mencari Desa Claket dan Wisata Ubalan. Lalu setelah melewati Wisata Ubalan, ada gapura besar belok ke kanan dan lurus saja sampai menemukan pos pendakian.

Kami pun menuruti arahan itu dan sampailah kami di areal Wisata Claket. Saat memasuki gapura, kami dikenakan biaya retribusi sebesar Rp 15.000 oleh satpam penjaga lokasi wisata.

Setelah bertanya kepada satpam, kami diarahkan untuk terus mengikuti jalan cor yang terbilang masih baru. Selang beberapa menit kemudian, sampailah kami di pos pendakian Putuk Sewur dan Gunung Pundak. Menurut hasil survey kecil-kecilan kami, sebenarnya ada dua pos pendakian. Dua pos pendakian itu yakni pos atas dan pos bawah.

Namun karena kami telah dicegat diawal, akhirnya kami berhenti dan memilih pos pendakian bawah. Kami dikenakan biaya Rp 5000 untuk parkir dan biaya pendakian serta asuransi sebesar Rp 10.000/ orang beserta surat dan himbauan lapor ketika turun.

Waktu menunjukkan pukul 21.55 malam. Setelah mengecek barang-barang bawaan dan berdoa, kami berdua memulai pendakian. Jalan yang kami lalui relatif landai kadang pula menukik. Dengan kondisi yang amat gelap dan vegetasi yang rapat di kanan kiri jalan. Kami pun hanya bertemankan senter bulpoin dan flash smartphone.

Tak lama kemudian sampai lah kami di pos pertama yang juga menjadi spot selfie. Kami berhenti sejenak untuk mengatur nafas dan sekedar minum. Setelah nafas agak turun dan dahaga kami hilang, kami memutuskan untuk kembali berjalan dengan mengikuti tanda berwarna oranye (sebuah tanda menuju Gunung Putuk Sewur). Hingga pada akhirnya kami melihat plakat bertuliskan “Exit” di tengah-tengah jalur yang bercabang. Disinilah awal kami tersesat, sebab percabangan jalur ini agak membingungkan.

Tanpa berdiskusi, kami memaksakan kaki untuk berjalan lurus. Tak peduli tanda-tanda oranye yang makin hilang. Hingga pada akhirnya sampailah kami di areal perkebunan warga. Sementara jalur di depan kami kian menyempit dan buntu oleh alang-alang setinggi badan orang dewasa dan pepohonan tinggi menjulang. Kami benar-benar tersesat.

Parahnya lagi, pada saat saya turun untuk mencari tempat yang landai, sendal saya putus. Akhirnya kami memutuskan untuk duduk ditempat xalam kondisi kemiringan berkisar 55 derajat untuk berdiskusi sembari membakar rokok. Sebab pada saat itu malam semakin dingin. Sementara suasana makin mencekam dengan turunnya kabut dan semaraknya suara-suara penghuni hutan.

Kami pun terpaksa turun sesuai kesepakatan diskusi malam itu. Kami turun menuju percabangan tadi karena disitu lah kami awalnya ragu. Kali ini kami berjalan agak cepat, sebab kabut gunung semakin lebat. Sampai-sampai butiran air amat terasa di wajah.

Dinginnya pun sampai merasuk ke tulang-tulang. Sesampainya di percabangan, kebetulan kami bertemu sepasang pendaki yang berbelok ke arah kanan dari jalur kami. Saya melihat tanda ‘Exit’ itu dan alangkah kagetnya saya waktu itu. Sebab dalam tanda itu terdapat arah panah untuk kembali ke arah pos pendakian. Saya bertanya dalam hati, —- “lah jalur tadi apabila diteruskan kemana coeekk!!!”

Mengikuti pendaki yang tadi adalah pilihan kami kemudian. Tak lama berjalan, kami mendapati pendaki tadi sedang berhenti untuk beristirahat. Sebagaimana tradisi mendaki, tak etis jika kita tidak menunjukkan respect kepada pendaki yang lainnya. Meski hanya sekedar menyapa dan berkenalan. Pada saat itu kami menyapa sambil bertanya soal asal. Rupanya dua orang tersebut berasal dari daerah yang dekat dengan rumah kami yakni di Krian, Sidoarjo.

Sementara kami dari Wonoayu, Sidoarjo. Kira-kira butuh waktu 15 menit lah dari rumah kami untuk ke rumah mereka. Lumayan, barangkali kapan-kapan bisa diajak gandengan. Mereka masih memutuskan untuk beristirahat, sementara kami akhirnya memutuskan untuk kembali berjalan.

Sementara jalur di depan kami makin menunjukkan tanda kebenarannya. Benar saja, tanda-tanda oranye tadi makin banyak dan tidak terputus. Kali ini kami memang lebih bermawas diri. Tentu agar kami tidak tersesat kembali. Tak lama kemudian sampailah kami di punggung gunung. Jalannya makin terjal dengan kemiringan berkisar 45 derajat.

Sesekali kami melihat banyak tempat landai yang membuat kami tergoda untuk membuka tenda dan beristirahat. Namun kami tidak melakukannya. Sebab, bagi kami tidak ada tempat yang paling nikmat selain camp ground di areal Puncak Putuk Sewur. Waktu itu kami hanya memutuskan untuk beristirahat dan sekedar merokok. Tentu sambil menikmati gemerlapan Kota Mojokerto di malam hari dari ketinggian.

Sehabisnya batang rokok, kami pun melanjutkan perjalanan. Hingga pada akhirnya sampailah kami di puncak Gunung Putuk Sewur pada pukul 00.16 pagi. Alhamdulillah kata kami sambil ngos-ngosan memburu nafas. Di puncak ini pula kami sempat bertemu kelompok pendaki lainnya. Akan tetapi ada salah satu kelompok pendaki yang patut disayangkan sebab mereka meremehkan gunung.

Bayangkan mereka hanya naik berbekal mie instan dan sarung untuk tidur. Bahkan sempat izin untuk menginap satu tenda dengan kami apabila hujan. Belakangan, pendaki seperti ini memang marak di beberapa gunung di Jawa Timur. Seperti di Gunung Penanggungan di Mojokerto, Gunung Panderman di Kota Batu bahkan Gunung Lemongan di Kota Lumajang. Padahal jelas hal ini membahayakan diri sendiri. Coba saja bayangkan misalnya di sebuah gunung tiba-tiba sepi pendaki?

Kami iya-kan saja permintaan mereka. Di lain sisi kami juga kasihan, sebab terlihat sekali bahwa mereka masih muda. Perkiraan kami masih anak-anak SMP lah, atau baru menginjak SMA. Malam semakin dingin dan akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda. Pasca itu kami hanya sekedar membuat kopi dan merokok kemudian memutuskan diri untuk tidur karena kelelahan.

Tak lupa sebelum tidur, kami ingatkan kepada kelompok pendaki tadi untuk ke tenda saja apabila terjadi hujan. Saat bangun keesokan harinya, kami dikagetkan dengan banyaknya tenda di kanan kiri kami. Sementara kelompok pendaki tadi tidak jadi untuk menumpang di tenda kami. Sebab semalam tidak terjadi hujan.

Kami keluar dari tenda dan menyulut rokok kami. Tak lama kemudian kami dihampiri oleh seorang pendaki bernama Rifky. Asalnya dari Madura. Meski di Putuk Sewur kami memang masih bersikukuh untuk menapakkan kaki di puncak Gunung Pundak. Disinilah kami tanyakan hal itu kepada Rifky. Kira-kira masih memungkinkan tidak kami untuk ke Gunung Pundak.

Dari jawaban Rifky, rupanya memungkinkan. Kami tinggal mengikuti jalan ke atas dan kembali menitih tanda oranye. Kami akhirnya bersiap-siap untuk berjalan ke puncak Gunung Pundak, meski tanpa sarapan. Sebab kalau kami sarapan terlebih dahulu, kami bakal sering ‘sudukan’ dalam istilah jawanya. Atau dalam bahasa kedokteran adalah keram pada perut akibat kekenyangan namun pada saat bersamaan kita melakukan olahraga.

Kami memulai summit attack sekitar pukul 06.30 pagi. Jujur summit attack dari Puncak Gunung Putuk Sewur ke Puncak Gunung Pundak merupakan hal yang paling berat dalam hal ini. Sebab kami dalam keadaan lapar dan berjalan di tengah kemiringan jalur sebesar 35 derajat. Sementara jalur yang landai atau sering disebut pendaki sebagai ‘bonus’ sangatlah sedikit. Dengan jenis vegetasi terbuka yang memungkinkan kita terpapar cerahnya sinar matahari.

Tak heran jika kami memakan waktu sekitar 45 menit-an dalam hal ini. Akan tetapi semua itu terbayar tatkala kami pada akhirnya sampai di Puncak Gunung Pundak 1585 mdpl. Sesampainya di puncak, kami dikagetkan dengan jumlah pendaki yang sangat banyak. Kebanyakan dari mereka naik dari pos pendakian atas yang notabene jalur tercepat menuju Puncak Gunung Pundak. Tak heran jika kebanyakan dari mereka memilih untuk berkemah di puncak, meski vegetasinya relatif terbuka.

Menariknya dari sekian banyak pendaki yang ada, tidak sama sekali membuyarkan keindahan Puncak Gunung Pundak. Malahan makin menuaikan kesan indah soal bagaimana interaksi antara alam dan manusia. Tentang bagaimana alam mampu mempersatukan individu-individu manusia. Dan mereka adalah orang yang beruntung dan mencoba berlari dari dataran rendah yang tidak lagi memanusiakan. Dengan seluruh rutinitas dan pekerjaannya.

Saya yakin mereka pun mendapatkannya. Paling tidak dalam sesi kumpul-kumpulnya mereka pasti sedikit banyaknya ada miskomunikasi sebelumnya. Pasti ada ‘balada’ yang mendera setiap kehidupannya. Namun semua itu tidak lagi terlihat disini. Sebab semuanya telah berganti senyum dan tawa.

Tidak saling pandang asal suku, ras bahkan agama. Kalau pun ada, pastilah ia hanya dalam bentuk ‘guyonan’. Tapi kiranya dari semua perwujudan relasi dalam bentuknya yang menyenangkan, apa yang lebih menarik di benak kita selain guyonan?

Tidak ada. Sialnya, kita melakukannya dengan tulus dan tidak bersandiwara. Bukan seperti tayangan di TV atau YouTube yang penuh sandiwara untuk mendulang pamor, iklan pemasukan dan rating. Meski demikian perlu diketahui bahwa di gunung semua manusia sama tanpa terkecuali. Sehingga sikap saling menghargai dan toleran terhadap sesama adalah suatu hal yang niscaya. Suatu bentuk prasyarat bumi manusia dengan seluruh persoalannya itu.

Matahari mulai meninggi dan kabut mulai turun. Menutupi indahnya Puncak Gunung Pundak yang dilatari oleh gagahnya lereng Gunung Welirang dan gugusan pegunungan kembar. Pendaki-pendaki mulai meringkes peralatan campingnya, mulai dari hammock sampai ke tenda. Mulai suami, teman sampai anak-cucu. Kami pun menyusul pendaki-pendaki itu, terhitung sudah 45 menit lamanya kami berada disini hanya untuk menafsirkan apa yang kami dapat dari gunung ini.

Sebagaimana jalur awal yang terjal, maka turunnya jalur makin terasa curam. Mirisnya tidak bisa dibuat running. Mengeluh pun alangkah lebih baik disampaikan dalam hati. Di lain sisi, kondisi ini menyebabkan kami makin lapar saja.

Setelah menuruni jalur dengan lama dan berhati-hati, sampailah kami di Puncak Gunung Putuk Sewur kembali. Tenda-tenda tadi pagi berkurang. Sementara itu, ada dua tenda baru di samping tenda kami. Dari geliatnya kami lihat pendaki ini merupakan pendaki profesional. Itu terlihat dari outfit dan gear yang dibawa serta ceritanya yang telah mengelilingi gunung di Jawa Timur. Semoga saja hal ini berimbang dengan upaya melindungi kelestarian alamnya.

Meskipun hanya dengan memungut sampah kecil yang ditinggalkan pendaki. Kini kami memasak sambil mendengarkan saja ceritanya dari jauh. Akibat bau masakan mie instan kami menyebar, pendaki itu memberikan sisa masakannya pagi tadi saat kami ada di puncak. Masakan itu berupa tempe dan nugget. Kami hanya berterima kasih dan sungkan untuk berkenalan, soalnya dia seorang perempuan.

Setelah kenyang mengisi perut dengan mie instan, tempe, nugget dan susu, kami pun turun. Kami turun ke pos dalam kondisi waktu yang beranjak siang, sekitar pukul 11.15 WIB. Jalur turun agak landai, sehingga kami paksakan kaki untuk melakukan running. Tidak butuh waktu lama dan sampailah kami di pos pendakian sekitar pukul 12.30 siang. Setelah membuang sampah kami dan sampah ‘kecil’ pendaki lainnya, kami segera lapor.

Pasca lapor kami bersih bersih diri dan merokok sejenak. Menghabiskan sisa-sisa logistik kami seperti biskuit dan lain-lain. Setelah kenyang dan letih mulai terasa, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Sidoarjo. Kota udang itu. Eh kota bandeng, eh kota lumpur. Salam salumpur.***

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.