Moralitas Sejarah

Posted by

Syafiq : Dokumen Pribadi

Sebut saja Syafiq, adik kandung saya. Seorang mahasiswa jurusan ilmu sejarah Universitas Negeri Jember itu. Yang kini sedang menginjak semesternya yang keempat itu. Rupa-rupanya hari Rabu pagi kemarin ia agak penasaran terhadap sebuah film. Film itu berjudul Asimetris produksi Watchdoc.

Film yang menurut saya sangat epik. Sebab banyak menyuguhkan dampak sosial ekonomi politik dari sebuah bisnis kelapa sawit. Terkhusus bagi kalangan masyarakat akar rumput. Bukan para golongan elite.

Tak heran jika film ini sempat menjadi trending perfilman. Tapi sayang, bukan di bioskop nasional kita. Melainkan bagi layar tancep atau forum diskusi dari kalangan aktivis pegiat lingkungan, aktivis mahasiswa dan aktivis gerakan sosial. Lingkupnya pun mencakup nasional bahkan internasional.

Sebab film ini sempat di putar di beberapa universitas dari berbagai negara. Seperti Goettingen University dan Freiborg University di Jerman, National University Of Singapore, Melbourne University dan Australian University di Australia serta Lancaster University di Inggris. Total ada 300 lokasi, baik nasional maupun internasional. Cukup membanggakan bukan?

Semoga terus menginspirasi dan sukses selalu untuk Watchdoc. Kembali kepada Syafiq si mahasiswa sejarah itu. Mungkin faktor inilah yang menggugah Syafiq untuk sejenak membuka media sosial Youtube-nya, waktu dan juga paket datanya. Untuk melihat Asimetris sendirian. Sementara saya disampingnya dengan mengkliping-kliping esai-esai yang sempat saya tunda.

Setelah hampir satu jam lamanya, film itu selesai. Syafiq pun terlihat merenung sebentar. Lalu ia berkata :

Filmnya bagus, pembawaan datanya bagus” , katanya. “Semakin menunjukkan Republik ini lupa sejarah” , tambahnya.

Kok begitu?” Tanya saya pagi itu.

Disinilah bagian yang mencatut jawabannya yang menarik dari seorang Syafiq. Mahasiswa jurusan sejarah itu. Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Jember itu. Rupanya ia memiliki sudut pandangnya sendiri. Sudut pandang itu berasal dari faktor sejarah.

Kita ini lupa sejarah, dengan seluruh filosofi dan pesan moralnya“, tegas Syafiq.

Loh, loh untuk yang mananya ini. Lanjut si Syafiq ini menjelaskan. Ternyata yang lupa sejarah bukan subjek-subjek dalam film. Atau sejarah film sampai yang memproduksi film. Akan tetapi, bagi Syafiq yang lupa sejarah adalah pemerintah dan pengusaha kelapa sawit itu. Yang terdiri dari konglomerat nasional maupun transnasional itu.

Lalu untuk sejarah yang mana ini?” Tanya saya.

Lupa ajaran nenek moyang kita, bahwa sejatinya kelestarian dan kekayaan alam bukanlah warisan untuk generasi. Akan tetapi kelestarian alam dan kekayaannya adalah titipan.” Jelasnya.

Disinilah saya bingung. Se-bingung Amerika CS yang tetap ingin Nicolás Maduro tetap lengser dari kursi kepresidenan sah Venezuela. Padahal sejatinya ini urusan internal negara mereka sendiri. Kembali ke pernyataan Syafiq. Saya bertanya :

Bukankah memang benar kata filosofis itu?

Disinilah ia menjelaskan dengan panjang, lugas dan kompeten di bidangnya. Tentu dengan cara khasnya mahasiswa. Dengan argumen menggunakan bahasa yang baik dan benar, ilmiah sambil mengayunkan tangan. Bahasa yang sulit dicerna masyarakat kita. Yang tidak mampu mencicipi bangku kuliah. Untungnya hanya saya yang dengar. Sebab kalau tidak bisa gawat, bisa seperti kasus Bung Rocky Gerung.

Syafiq berkata bahwa warisan dan titipan itu berbeda arti. Jika warisan maka kekayaan alam dan kelestariannya akan kita anggap selesai di tangan kita. Dan pasti akan berimplikasi pada eksploitasi habis-habisan. —- “Kan generasinya sudah mandek, jadi apa boleh buat” tambahnya.

Sementara kalau kita memakai kata titipan, maka maknanya juga berbeda pula. Bahwa kita ini generasi yang dititipi kekayaan dan kelestarian alam. Oleh sebab itu kita wajib menjaganya. — “Dengan menggunakan kata titipan, kita akan sadar bahwa kita masih menanggung beban tanggung jawab untuk menjaga agar generasi kedepannya pun bisa menikmati hal itu” , tambah Syafiq.

Saya kira argumen ini berhenti disini. Namun tidak demikian. Agar berbobot ia lanjut menyodorkan fakta sejarah. Sejarah orang dulu dalam merawat kekayaan dan kelestarian alam. Ia berkata bahwa kalau orang dulu, hanya untuk menyimpan bambu saja direndam air. Dengan alasan agar generasi kita kelak bisa memakai bambu ini untuk keperluan rumah. Jadi tak perlu menebang pohon. Dan pasti nenek moyang itu berharap agar sejarah ini dipraktekkan oleh setiap generasi.

Seterusnya dan selamanya. Selama Republik ini masih memiliki generasi penerus. Tak tahu waktu itu nenek moyang sudah tau atau tidak trekait ramalan Pak Prabowo bahwa Indonesia akan bubar di tahun 2030. Kalau mereka tau, lantas bagaimana jadinya?

Bisa jadi nenek moyang, pahalwan nasional kita patah semangat pada waktu itu. Pasti nenek moyang kita, pahlawan nasional kita merasa tak perlu lagi berjuang untuk generasi penerus. Tak perlu perang, baku tembak vs penjajah. Bahkan tak perlu merendam bambu agar kelak bisa digunakan oleh generasi penerus. Sebab ia tau Republik ini berumur singkat. Padahal kekayaannya amatlah padat.

Kemudian kita jadi generasi ‘ngaplo’ ~

Kembali pada diskusi bersama Syafiq. Kini saya setuju dengan seluruh sudut pandang dan tetek bengeknya itu. Di lain sisi saya teringat akan suatu pamflet yang saya temui di Pantai Ngudel, Kabupaten Malang Jawa Timur. Pamflet itu berisi pesan yang sama dengan apa yang diinginkan Syafiq. Berikut dengan pemaknaan dan pesan moral yang di representasikan. Dan saya tunjukkan foto itu kepadanya.

Syafiq yang melihatnya langsung melempar respon. Dengan singkat, tegas dan kompeten. Tak panjang lebar seperti sebelumnya.

Benar kan kataku? Ku bilang juga apa“, katanya.

Saya sangat paham bahwa respon ini adalah alarm tanda berhentinya mood Syafiq untuk berdiskusi. Sebab saya sudah mengenalnya bertahun-tahun. Toh adik kandung saya sendiri. Hanya saja menariknya dari diskusi ini saya akhirnya memahami pentingnya sejarah dengan seluruh pesan moralnya.

Historia Vitae Magistra” —– kata Cicero. Yang artinya “sejarah adalah guru kehidupan“. Dan seorang pembelajar atau penulis sejarah pasti memiliki pertimbangan penting mengapa ia memaparkan sebuah peristiwa sejarah. Begitupun dengan pesan moralnnya yang amat penting.

Hegel misalnya, dalam pembuka History Of Philosophy bahasa Jerman milik saya. Ia mengatakan bahwa yang terpenting dari sejarah adalah mempelajari pesan moral dalam sebuah fakta sejarah. Sebab, pesan moral dalam sejarah pasti sedikit banyaknya mewakili alasan ‘mengapa’ fakta sejarah itu dipaparkan. Baik secara tersirat maupun tersurat.***

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang