BTP

Posted by

Kredit Ilustrasi : devianart.com

Sungguh aneh media sekarang ini. Masih saja dengan bandelnya sebut-sebut nama ‘Ahok’ sebagai judul artikel. Padahal nama ‘Ahok’ sudah menghilang pasca kebebasannya BTP. Dan penghilangan nama ini memang sudah dikehendakinya.

“Saya tidak mau lagi dipanggil Ahok,” katanya. “Panggil saya BTP,” tambahnya.

Dengan demikian maka seharusnya nama ‘Ahok’ sudah hilang dan digantikan dengan BTP atau Basuki Tjahaja Purnama. Demikian dengan seluruh jejak sejarahnya. Yang selalu dikenal publik tegas, keras dan kaku. Juga memiliki sejarah kelamnya dengan umat islam itu. Sebab kini telah berganti dengan keluwesan dan kemurahan senyum dibawah nama Basuki Tjahaja Purnama.

Entah apa tujuannya. Sampai-sampai ia merubah nama khas orang Hokkian atau Nanfang itu. Yang jelas ada keterkaitannya dengan ilmu komunikasi politik. Sebab, komunikasi politik tak selalu berupa kalimat saja. Akan tetapi sampai melampaui simbol-simbol.

Semoga saja ada hasilnya. Apalagi teruntuk BTP yang kini kembali ke pusaran politik nasional. Sebab kini ia sudah masuk dalam jajaran anggota PDI-Perjuangan. Partai dari pasangan calon capres-cawapres nomor urut 01 itu.

Tentu kehadiran BTP bisa jadi bumerang bisa jadi nilai plus bagi partai itu. Tapi semua itu tergantung pada ingatan orang. Yang jelas nama ‘Ahok’ sudah tiada lagi. Begitupun dengan masa lalunya. Kini ia sudah menjadi Basuki Tjahja Purnama dengan ke-baruannya.

Dengan nama yang baru, istri baru bahkan partai baru. Saya ucapkan selamat untuk Pak BTP. Semoga nama baru ini akan berpengaruh terhadap keberuntungannya ke depan. Lebih langgeng dengan sang istri, lebih berhati-hati sebagai figur politik. Sebab kalau tidak, saya yakin ia sudah tidak punya pilihan untuk mengganti namanya lagi.

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang