Mengenal Sosok Marx Muda

Posted by

Kredit ilustrasi: aureliehuet.com

Der Junge Karl Marx atau The Young Karl Marx merupakan salah satu film garapan sutradara Raoul Peck. Film ini di perankan oleh August Diehl sebagai Marx, Stefan Konarske sebagai sebagai Friedrich Engels dan Vicky Krieps sebagai Jenny von Westphalen. Secara umum, film ini mengisahkan tentang bagaimana Marx muda di tahun 1843-1848. Selain itu, menceritakan berbagai pertemuan penting dalam hidup Marx saat di Brussels dan London. Pertemuan tersebut antara lain dengan Fredrich Engels juga tokoh-tokoh sosialis internasional.

Salah satunya tokoh-tokoh pembesar Anarkis seperti Pierre Joseph Proudhon yang diperankan oleh Oliver Gourtmet dan Mikhail Alexandrovich Bakunin yang diperankan oleh Ivan Franek. Film ini diawali dengan pembacaan Marx atas artikelnya yang berjudul “Debates on the Law on Thefts of Wood” di kantor Rheinische Zeitung. Disinilah sejatinya kita bisa menebak bagaimana sosok Marx muda. Dengan mengutip Montesquieu ia membacakan artikel yang ia tulis dalam nada yang berapi-api. Dari pembacaannya secara singkat Marx merupakan seorang pemikir yang cemerlang, cerdas namun komikal.

Ya, Marx muda merupakan seorang penulis artikel lepas dalam surat kabar Rheinische Zeitung. Ia sendiri pun hidup dan mengais pundi keuangan dari setiap tulisannya. Akibat ketajaman analisisnya dalam menulis, pada akhirnya Marx diangkat sebagai editor dalam surat kabar Rheinische Zeitung. Bahkan, dunia menulis akhirnya mengantarkan Marx untuk bertemu dengan Friedrich Engels. Disinilah yang saya pikir masa-masa cemerlang Marx.

Sebab, pertemuan dengan Engels amat mempengaruhi Marx di dalam spirit menulisnya. Sampai-sampai akhirnya Marx menuliskan buku yang mengkritik karya Pierre Joseph Proudhon. Meskipun dalam kondisinya Marx memasuki masa kesulitannya. Sebab saat itulah Marx dalam kondisi yang makin memperihatinkan. Ia hampir diusir oleh pemilik rumah kontrakannya.

Ditambah pada saat itu, anak kedua Marx akhirnya lahir. Namun disinilah sejatinya kita bisa melihat kecintaan Marx kepada istri dan anak-anaknya. Bahkan pasca pembentukan liga internasional, Marx terlihat sempat mengalami rasa keterputusasaan. Hal itu sempat dinyatakan kepada sahabatnya, Friedrich Engels. Dengan melihat semangat Engels yang berapi-api, sikap tersebut akhirnya berbalik arah.

Marx semakin bergairah untuk bersama-sama merumuskan pemikirannya dengan Engels. Akhirnya, lahirlah sebuah karya besar Marx dan Engels yang ia beri nama “Manifesto Partai Komunis”. Secara keseluruhan, film ini hendak membawa ke dalam dialektika pengetahuan akan ide-ide sosialisme. Sebab, banyak adegan film yang memperlihatkan diskusi maupun perdebatan tokoh-tokoh yang dipandang menjadi pelopor liga sosialis internasional. Sehingga memunculkan premis bahwa sosialisme secara konsep bukan lahir dari pemikiran beberapa orang saja.

Akan tetapi berakar dari proses dialektika pengetahuan dari tokoh-tokoh penting, salah satunya Karl Marx. Film ini ditutup dengan narasi kelanjutan kehidupan Marx yang diiringi oleh instrumen dari Bob Dylan. Salah satunya kelahiran Das Kapital. Yang kalau kata Ir Soekarno dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi, analisisnya dapat mengupas sistem ekonomi kapitalisme secara rinci itu. Kunci perjuangan Marx ada pada pena dan sikap konsistensinya dalam membedah keadaan yang sejatinya ilusif.

Sebab Marx merupakan seorang filsuf materialis. Di lain sisi, Marx merupakan seorang jurnalis yang konsisten dalam menulis. Dua kapasitas paling dasar inilah yang kemudian menjadikannya dikenal masyarakat dunia. Melalui karya-karyanya yang sangat kita kenal sebagai Marxisme. Sebuah embrio pengetahuan yang dilandasi cita-cita pembebasan itu.***

Catatan kaki :

Baca ulasan lengkap Der Junge Karl Marx (The Young Karl Marx) dalam Internet Movie Database (IMDb).

Link akses :

https://m.imdb.com/title/tt1699518/