HMI dalam Dinamika Digitalisasi Global : Sebuah Refleksi 72 tahun HMI

Posted by

Kredit Foto : Dok Pribadi

Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI telah memasuki usianya yang ke-72 tahun. Sebagai organisasi perkaderan, HMI telah banyak berkiprah dalam pembangunan sumber daya manusia yang ia dedikasikan untuk mengabdi pada umat dan bangsa. Terkhusus dalam ruang-ruang sosial, ekonomi maupun politik. Dedikasi ini merupakan implementasi Anggaran Dasar Konstitusi HMI yang tercantum dalam Pasal 4 tentang tujuan organisasi. Isinya dikatakan bahwa tujuan HMI yakni terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan tersebut merupakan kewajiban yang harus sama sama diusahakan oleh kader HMI dimana pun berada. Tak lupa dalam setiap usahanya, harus selalu dilandasi oleh nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. Juga berpedoman pada Tri Komitmen HMI yang mencakup Iman Ilmu Amal. Di lain sisi, setiap kader HMI haruslah memiliki pembacaan yang kritis terhadap kondisi objektif. Agar nantinya HMI mampu menjawab tantangan zaman secara komprehensif dan berpengaruh pada kemajuan bangsa.

Digitalisasi dan Dilema ‘Job Disruption’

Diketahui era saat ini tatanan global sedang memasuki Revolusi Industri 4.0. Sebuah revolusi industri yang pertama kali diperkenalkan oleh Prof Klaus Schwab, seorang ekonom global adal Jerman sekaligus pendiri WEF (World Economy Forum) dalam bukunya yang berjudul “The Fourth Industrial Revolution”. Secara historis, revolusi industri kali ini tidak jauh berbeda dengan revolusi industri sebelum-sebelumnya. Bahwa selain ekspansi besar-besaran atas produksi industri, revolusi industri kali ini pun mengusung agenda otomasi yang siap mengekstraksi pekerjaan manusia ke dalam produk digital. Bidang-bidangnya antara lain (1) robot kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic), (2) teknologi nano, (3) bioteknologi, dan (4) teknologi komputer kuantum, (5) blockchain (seperti bitcoin), (6) teknologi berbasis internet, dan (7) printer 3D [1].

Sehingga tak heran bahwa ke depan Indonesia sedang dihadapkan pada era disrupsi. Menurut riset McKinsey, era disrupsi ini menandai hilangnya 50 juta pekerjaan akibat teknologi revolusi industri dalam beberapa tahun ke depan [2]. Yang mungkin secara penetratif sudah kita rasakan saat ini. Misalnya dengan melihat fenomena Go-Jek yang menggantikan ojek-ojek konvensional. Hadirnya produk aplikasi digital yang semakin menggeser pekerja di sektor jasa seperti layanan konsultasi, editor profesional dan lain sebagainya.

Ini jelas berbahaya, sebab kita masih dihadapkan atas keadaan yang belum memungkinkan untuk memasuki revolusi industri ini. Keadaan tersebut antara lain masalah angka pengangguran yang sedang naik ditambah rendahnya daya saing sumber daya manusia pekerja kita. Berdasarkan data yang diambil oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rentang Februari 2017 sampai Februari 2018 diketahui bahwa telah terjadi peningkatan angka pengangguran sebesar 1,13% untuk lulusan universitas dan 1,04% untuk lulusan diploma I/II/III [3]. Di lain sisi, daya saing tenaga kerja Indonesia memang mengalami peningkatan. Institute for Management Development (IMD) mengklaim bahwa dari 63 negara Indonesia memiliki perbaikan peringkat terkait daya saing tenaga kerja.

Data tersebut menyebutkan bahwa Indonesia naik 2 angka dari yang awalnya 47 menjadi 45 pada tahun ini. Meski hasil ini merupakan peningkatan yang terbaik sejak lima tahun terakhir (versi IMD), namun kita belum layak untuk berbahagia. Sebab angka tersebut masih jauh dibawah Singapura yang menduduki peringkat 13 dan Malaysia di peringkat 22 [4]. Bahkan karenanya Global Talent Curch berani mengklaim bahwa Indonesia diprediksi bakal kekurangan 18 juta tenaga ahli pada tahun 2030 akibat perlambatan pertumbuhan tenaga kerja. Apabila hal tersebut terjadi, Korn Firma sebuah konsultan organisasi global memprediksi bahwa Indnesia bakal mengalami kerugian dengan nilai mencapai US$ 442,6 miliar [5].

Hal ini sekaligus menjadi lampu kuning bagi respon pemerintah terhadap revolusi industri dan bonus demografi Indonesia tahun 2030. Sebab diketahui pemerintah saat ini sedang merespon revolusi industri 4.0 dengan strategi “Making Indonesia 4.0”. Dalam agenda tersebut, pemerintah diketahui bakal menggenjot sektor produksi di lima manufaktur berorientasi ekspor antara lain produk makanan, tekstil, otomotif dan produk bahan kimia. Dengan ditambah bonus demografi maka Indonesia bercita-cita menjadi 10 top global ekonomi pada tahun 2030 [6].

Harapan ini tentu akan pudar apabila dikorelasikan dengan kondisi sumber daya manusia Indonesia saat ini. Oleh sebab itu, HMI sebagai organisasi kemahasiswaan dan organisasi perkaderan yang telah berkiprah selama 72 tahun harus mampu memberikan solusi terhadap hal tersebut. Langkah yang bisa di afirmasi HMI adalah dengan memperkuat pola kaderisasi berbasis soft skill dan hard skill yang diorientasikan kepada tujuan sosial.

Kaderisasi Berbasis Soft Skill dan Hard Skill

Sebagaimana tercantum dalam pasal 8 Konstitusi HMI, Organisasi HMI berfungsi sebagai organisasi perkaderan. Sebagai organisasi perkaderan, maka harus ada pola-pola kaderisasi yang sesuai untuk mencapai tujuan organisasi. Menurut Nawawi (1993:188), kaderisasi merupakan suatu proses penurunan dan pemberian nilai-nilai, baik nilai-nilai umum maupun khusus, oleh institusi bersangkutan [7]. Dalam konteks perkaderan di HMI maka proses perkaderan yang ideal adalah bagaimana menumbuhkan kader dapat memenuhi lima kualitas insan cita yakni insan akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan islam dan bertanggung-jawab atas masyarakat adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah SWT. Selain itu, pola kaderisasi yang dilakukan haruslah menjawab kebutuhan zaman agar keberadaan organisasi HMI mampu memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan bangsa.

Menyoal kondisi, beberapa waktu lalu World Economy Forum (WEF) merilis siaran pers berjudul “These are the 10 most in-demand skills of 2019, according to LinkedIn”.
Siaran pers tersebut merupakan hadil riset LinkedIn yang dipadukan dengan laporan WEF tentang “The Future Of Jobs”. Isinya menyebutkan bahwa global sedang memburu dua kualitas campuran dari hard skill dan soft skill yang tidak bisa di otomasi oleh robot. Dalam aspek hard skill, global sedang membutuhkan lima kemampuan antara lain Cloud Computing, Artificial Intelegence Programming, Analytical Reasioning dan UX Design. Oleh sebab itu pola kaderisasi yang bisa dilakukan oleh HMI antara lain dengan membekali pengetahuan terkait lima skill diatas, selain intensifikasi hard skill berdasarkan basic keilmuan.

Langkah ini dapat dilakukan dengan pelatihan ikhwal dunia komputasi, programming dan penerapan digitalisasi dalan berbagai hal. Sementara dalam aspek soft skill, ada lima soft skill yang harus menjadi prioritas oleh HMI. Soft skill tersebut antara lain Creativity, Persiasion, Collaboration, Adaptabillity, Time Management. Selain kaderisasi berbasis KMO (Kepemimpinan Manajemen dan Organisasi), HMI penting untuk mengembangkan berbagai soft skill yang lain seperti problem solving dan analytical thinking. Langkah ini dapat di integrasikan dengan pola kaderisasi berbasis studi kasus yang diorientasikan kepada tujuan sosial.

Tujuan sosial disini yakni memberikan impact terhadap masyarakat secara umum. Misal pada akhirnya kader HMI mampu menggait UMKM masyarakat ke dalam e-commerce, menciptakan produk teknologi, menciptakan lapangan kerja dan lain-lain. Dimana keseluruhannya merepresentasikan apa yang menjadi tafsir tujuan HMI terhadap nilai-nilai spiritual maupun humanitarian. Sehingga masyarakat sedikit banyaknya merasakan keberadaan HMI. Tentu dengan harapan agar HMI tetap menjadi “Harapan Masyarakat Indonesia”.

Penutup

Kontribusi Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI dalam dinamika kebangsaan tentu tidak dapat diragukan lagi. Bahkan kontribusi tersebut yang menyebabkan mengapa HMI tetap eksis hingga hari ini. Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban bagi HMI untuk selalu mendinamisasikan pola perkaderan yang ideal guna selalu menjawab tantangan zaman. Khususnya memasuki revolusi industri 4.0 yang dinilai semakin mengantarkan kita ke era disruptif tersebut. Sehingga keberadaan HMI nantinya mampu dirasakan dan menjadi manfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia.***

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang. Demisioner PTKP HMI Cabang Malang Komisariat Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2017-2018.

Kepustakaan :

1. Baca Artikel Ilmiah Rosyadi, Slamet, 2018.Revolusi Industri 4.0. Researchegate.
Link akses:
https://www.researchgate.net/publication/324220813_REVOLUSI_INDUSTRI_40 (diakses 7 Januari 2019 pukul 18.00 WIB).

2. Baca Laporan Riset McKinsey berjudul “Jobs lost, Jobs gained: Workforce Transitions in a Time of Automation” di laman resmi McKinsey Company.
Link Akses :
https://www.mckinsey.com/mgi/overview/2017-in-review/automation-and-the-future-of-work/jobs-lost-jobs-gained-workforce-transitions-in-a-time-of-automation (diakses 8 Januari pukul 09.40 WIB).

3. Baca Rilis Badan Pusat Statistik tahun 2018 dengan judul “Februari 2018: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,13 persen, Rata-rata upah buruh per bulan sebesar 2,65 juta rupiah.”
Link akses:
https://www.bps.go.id/pressrelease/2018/05/07/1484/februari-2018–tingkat-pengangguran-terbuka–tpt–sebesar-5-13-persen–rata-rata-upah-buruh-per-bulan-sebesar-2-65-juta-rupiah.html (diakses 7 Januari 2019 pukul 21.00 WIB).

4. Baca Infografis Nandini, Widya, 2018. Pekerja Indonesia Masih Kalah Saing. Katadata.
Link Akses :
https://m.katadata.co.id/infografik/2018/12/05/tenaga-kerja-indonesia-masih-kalah-saing (diakses 8 Januari pukul 12.30 WIB).

5. Baca Widowati, Heri. 2018. Indonesia Diprediksi Kekurangan 18 Juta Tenaga Ahli pada 2030. Katadata.
Link akses :
https://m.katadata.co.id/berita/2018/05/03/indonesia-diprediksi-kekurangan-18-juta-tenaga-ahli-pada-2030 (diakses 8 Januari pukul 18.15 WIB).

6. Baca Publikasi Kementerian Perindustrian tentang Making Indonesia 4.0.
Link akses :
http://www.kemenperin.go.id/download/18384 (diakses 9 Januari pukul 10.00 WIB).

7. Nawawi, Hadari. 1993. Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta : Gajah Mada
University Press. hlm 188.

Notes : Tulisan ini pernah dimuat dalam kolom Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Malang.

Link akses :
http://lapmimalang.com/opini/hmi-dalam-dinamika-digitalisasi-global-refleksi-72-tahun/