Yang Terlupakan

Posted by

Kredit ilustrasi : insta.orenya

Tulisan ini bukanlah sebuah lirik Iwan Fals. Bukan menyoal RUU Permusikan yang belum usai. Akan tetapi disini saya menyoal dua hal. Pertama, saya lupa akan komitmen saya untuk membaca dan menulis setiap hari. Kedua, saya lupa bahwa tiga hari lalu merupakan hari-hari besar.

Menyoal yang pertama, sebenarnya komitmen ini berangkat dari kecintaan saya untuk membaca tulisan-tulisan milik penulis besar. Seperti blog milik mbak Dee Lestari, Eka Kurniawan dan Muhidin M Dahlan. Sebab saat ini saya sedang fokus untuk membuat genre tulisan yang baru, fokus namun tidak kaku. Sementara untuk menulis, jujur saya terinspirasi oleh Pak Dahlan Iskan melalui DisWay-nya. Beliau yang saya lihat sangat fokus sekali untuk menulis setiap hari.

Sementara tulisannya cukup singkat namun amat berbobot. Meski harus menyinggung beberapa isu, tapi ia tetap fokus. Tak heran jika DisWay kini makin memiliki banyak pembaca tetap. Karena kebiasaan Pak Dahlan yang giat menulis satu hari satu artikel, terhitung sudah 365 tulisan ia hasilkan dalam blognya itu. Kebetulan satu tahun lalulah DisWay ini ia lahirkan, khususnya pasca Pak Dahlan tidak lagi di Jawa Pos.

Oleh sebab itu saya mengucapkan selamat ulang tahun yang pertama DisWay. Dan juga tetap semangat bagi Pak Dahlan Iskan. Serta biarkan saya merenungkan moralitas saya atas komitmen yang saya buat. Untuk membaca dan menulis setiap hari. Di tengah derasnya arus informasi dan komunikasi ini.

Sementara menyoal yang kedua, saya lupa bahwa tiga hari lalu merupakan hari-hari besar. Pada tanggal 4 Februari lalu, seharusnya saya update refleksi akan milad organisasi mahasiswa saya yang makin tua. Organisasi itu bernama HMI atau Himpunan Mahasiswa Islam, yang pada 4 Februari lalu menginjak usianya yang ke-72 tahun. Usianya yang dua tahun lebih muda dari usia Republik ini. Dengan membaca seluruh kiprahmu saya ucapkan selamat ulang tahun untuk HMI yang ke 72.

Sementara teruntuk hari berikutnya yakni tanggal 5 Februari, saya tak lupa untuk mengucapkan Gong Xi Fat Cai. Terima kasih meski bukanlah agenda orang islam, setidaknya Imlek kemarin memberikan saya tanggal merah untuk sekedar liburan. Singkat cerita, di tanggal itu saya akhirnya bisa berlibur dengan keluarga saya di agrowisata Bhakti Alam di Pasuruan. Kepada setiap yang merayakannya kita memang bukan saudara dalam seiman, akan tetapi kita tetap saudara dalam kemanusiaan. Semoga di tahun babi ini keberkahan, kedamaian serta kemajuaan dapat diwujudkan oleh kita seluruh masyarakat Republik Indonesia ini.

Sekarang teruntuk tanggal 6 Februari. Saya lupa bahwa hari itu merupakan hari ulang tahun sastrawan kondang Pramudya Ananta Tur yang ke 92 tahun. Tak banyak yang merayakannya, tapi banyak yang ingin memfilmkan karyanya. Bumi Manusia salah satunya. Ia seperti dilupakan oleh si pembuat film maupun pemain.

Di lain sisi, hanya beberapa media saja yang meliput ikhwal ulang tahunnya ini. Begitupun dengan Google. Sangat berbeda dengan tahun 2017 lalu yang sampai menggunakan header seorang Pram. Kemarin saya cek, malah Google sedang mengadakan Earth Day Quiz. Tak apalah, memang Google ini kan bukan milik kita.

Di tanggal 6 Februari ini pula adalah kali kedua saya mengunjungi Omah Munir. Kebetulan saya ada project yang mengangkat tema soal Alm Munir Said Thalib. Sebab benar saja bahwa pasca ia ditiadakan oleh konspirasi, kasus impunitas hukum banyak sekali kita temui belakangan. Ia merupakan salah satu orang yang terlupakan di Republik ini. Padahal jasanya sudah terlampau banyak, khususnya bagi ploletariat-ploletariatnya Republik.

Dari kelas buruh, petani dan lain-lain. Sampai-sampai Iwan Fals menuliskannya dalam lagunya yang berjudul Pulanglah begini :

“Selamat jalan pahlawanku, pejuang yang dermawan. Kau pergi saat dibutuhkan, saat dibutuhkan. Keberanianmu mengilhami sejuta hati, kecerdasan dan kesederhanaanmu jadi impian.”

Kebetulan Munir merupakan kader Himpunan Mahasiswa Islam. Namun jujur tak banyak orang yang mengingat itu bahkan melanjutkan khittoh perjuangannya. Inilah yang mendasari saya ingin membuat projects tentangnya di Republik yang lupa ini. Padahal fotonya sempat dipajang dalam acara The Human Rights Defenders World Summit 2018. Sebuah Acara tentang pembela HAM Dunia ini berlangsung pada 29-31 Oktober 2018 di Kota Paris, Prancis.

Saya pun salah satu pelupanya. Pelupa dari makna tiga hari ini. Sehingga saya termasuk orang-orang yang merugi. Padahal di dala tiga hari itu harusnya saya menggugat ingatan saya, mempertanyakan moralitas saya. Inilah seluruh pikiran yang sempat terlupakan. Begitupun dengan refleksi-refleksinya.

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang