Review Asimetris

Posted by

Kredit Foto : Cuplikan Film

Asimetris merupakan sebuah film dokumenter produksi Watchdoc – Ekspedisi Indonesia Biru yang diproduseri oleh Indra Jati dan Dandhy Dwi Laksono. Film ini merupakan film yang mencoba mengungkap fakta lain dibalik besarnya usaha perkebunan kelapa sawit yang ada di tiga kepulauan besar yakni Sumatera, Kalimantan dan Papua. Jika di kalkulasikan, areal perkebunan di ketiga pulau tersebut berkisar 11 juta hektar. Namun, luas perkebunan tersebut hanya dikuasai oleh beberapa perusahaan nasional bahkan multinasional. Angka kelahiran yang begitu tinggi serta kebutuhan pokok yang banyak menyangkut kelapa sawit, akhirnya memaksa usaha kelapa sawit agar terus didorong guna menjawab kebutuhan masyarakat.

Badan Pengelola Sawit ditahun 2016 mencatat bahwa ekspor sawit mencapai angka 25,7 juta ton setiap tahunnya. Dengan kata lain, bisa dikatakan Indonesia merupakan negara pemasok sawit terbesar di dunia dengan pencapaian sebesar 240 triliun rupiah. Seperti yang telah diketahui, 50% kebutuhan hidup manusia dari 7,5 milyar penduduk Bumi mengandung sawit seperti sabun, produk kosmetik, sebagai bahan makanan bahkan campuran bahan bakar kendaraan. Pada awal-awal film ini ditayangkan betapa dahsyatnya sebuah kebakaran lahan gambut akibat ekspansi lahan kelapa sawit di Provinsi Riau. Seolah bukan rahasia umum, bahwa kelapa sawit merupakan tumbuhan kering yang artinya bakal menyedot air sebanyak-banyaknya karena jenis akar yang mampu menjangkau seluruh persediaan air bahkan yang ditampung melalui lahan gambut.

Sehingga ketika musim kemarau tiba lahan gambut kemungkinan besar akan mengalami kekeringan bahkan kebakaran. Di tengah-tengah film ada beberapa pernyataan yang di gali khususnya dari masyarakat di sekitaran perkebunan gambut. Cerita mereka sangat bervariasi misalnya tentang perawatan gambut yang cukup mahal dengan biaya pendapatan yang relatif kecil, rantai tengkulak bahkan pencaplokan lahan yang di lakukan oleh perusahaan kelapa sawit. Pada tengah-tengah film ini pun di tampilkan pidato Presiden Republik Indonesia Pak Joko Widodo yang menekankan bagaimana proses peremajaan yang baik untuk sawit dan sawit sebagai komoditas utama yang menyokong perekonomian negara. Sementara keluhan-keluhan petani tidak diangkat disini.

Sementara pada bagian akhir film, digambarkan bagaimana kita sebagai konsumen yang bertanggung jawab atas ekspansi bisnis kelapa sawit. Ternyata, akibat dari berbagai produk kosmetik, bahan makanan bahkan bahan bakar yang kita gunakan sehari hari merupakan sumbangsi umum dari ekspansi bisnis kelapa sawit. Dalam bagian ini, seolah-olah kita dibuat untuk berfikir bahwa kita tidak dapat menghindari seluruh kebutuhan yang berhubungan dengan kelapa sawit. Kendati demikian di akhir film kita akan dibawakan kepada gagasan bahwa sebenarnya kebutuhan kita akan produk-produk yang berbahan dasar kelapa sawit bisa diantisipasi. Salah satunya dengan memanfaatkan sumber daya alternatif lainnya.

Dapat disimpulkan bahwa film ini ingin memberikan gambaran nyata tentang praktik bisnis kelapa sawit di Indonesia. Bahwa apa yang kita angankan soal kesejahteraan petani sawit maupun sawit yang ramah lingkungan seluruhnya asimetris dengan apa yang digaungkan oleh pemerintah kita hari ini. Pemerintah hanya berbicara bagaimana Indonesia mampu meraih rating terbaik sebagai pemasok kelapa sawit bagi korporasi-korporasi global. Padahal bisnis yang satu ini amat memicu laju deforestasi yang berimplikasi terhadap sumber daya alam kita. Film ini amat layak ditonton oleh berbagai kalangan, khususnya para pejuang lingkungan.***

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Untuk link film Asimetris “Ekspedisi Indonesia Biru” bisa di tonton DISINI.