Kisah Pendakian Gunung Lemongan

Posted by

Kredit Foto : Track Mountain

Gunung Lemongan adalah gunung yang berlokasi di Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang Jawa Timur merupakan gunung yang jarang didengar pendaki dibandingkan kakaknya yaitu Gunung Semeru di Kecamatan Senduro, Lumajang Jawa Timur. Namun, masyarakat klakah mengenal baik gunung ini . Gunung berapi yang pernah sangat aktif di tahun 1799 sampai abad ke 20 , sebagaimana yang diungkapkan ahli botani Belanda yang pernah mendaki gunung-gunung di Jawa yakni Franz Williem Junghuhn. Dibuktikan dengan banyaknya danau atau kaldera letusan disekitarnya. Dan mempunyai mitos termasuk salah satunya jika ingin tidak kesulitan di track Mahameru, Gunung Semeru alangkah baiknya mencoba dulu track Gunung Lemongan. Dan dari sini rasa penasaran saya dan kawan-kawan dimulai.

Pendakian Gunung Lemongan

Pertama kali melihat gunung ini adalah Januari 2016 waktu turun dari Gunung Argopuro terlihat dari jauh indah sekali, membuat saya penasaran dan bercita – cita kesana. Oke, berawal juga dari batalnya rencana kami ke Gunung Semeru tanggal 11 Juli kemarin sempat blank gara gara ada beberapa teman kami yang masih mengurus kuliahnya. Saya ingat Gunung Lemongan tidak lain waktu stalking akun resmi Trackmountain yang akan mengapresiasi kisah para pendaki akhirnya saya memilih gunung Ini sebagai guru untuk cerita kali ini.

11 Juli 2016

Malam itu saya rapat kecil kecilan dengan teman teman saya , sebut mereka Kopi Backpacker yang berawal juga dari cita cita bersama untuk membuat organisasi pecinta alam independen. Ada beberapa anggota yang ingin ke Gunung Semeru lagi karena masih penasaran dengan Semeru , yah gara gara dulu pas berangkat kesana dikejar waktu sekolah jadi ada beberapa tempat yang belum dikunjungi disana. Kemudian saya mulai memberi referensi plan B yaitu Gunung Lemongan. Mereka bingung dan saya hanya menjelaskan beberapa hal yang saya tau dari Gunung Lemongan. Dan saya pun menyuruh untuk bersama sama mencari info tentang Gunung ini. Anggota kami adalah 10 orang dan miris yang fix untuk ikut hanya 4 orang, saya (Faris) , Rizal, Habib dan Adit. Kemudian ditentukanlah tanggal berangkat yakni 13 Juli 2016.

13 Juli 2016

Setelah olahraga kecil kecilan saya pun memberi tahu kawan kawan agar segera packing, saya pun juga mulai mempersiapkan alat alat camping dan logistik pribadi. Sekitar jam 16.00 Habib menjemput saya setelah saya berpamitan kepada orang tua saya. Kemudian menuju rumah Adit dan tepat pukul 21.30 kami berangkat dari Sidoarjo menuju Kabupaten Lumajang. Setelah 4 jam perjalanan kami berempat sampai di Kecamatan Klakah, Lumajang pukul 01.30 setelah istirahat kami pun mengobrol dengan orang orang sekitar pasar Klakah , katanya kalau jam segitu disana rawan pembegalan sampai pembunuhan karena jarak jalan raya besar ke basecamp masih 8 km dan jalannya adalah hutan yang gelap. Kami pun agak berpikir untuk ke basecamp pagi hari. Tidak lama kemudian tak disangka sangka ada bapak-bapak yang menawari jasa kawal untuk ke basecamp.

Alhamdulillah kami pun berangkat ke basecamp. Di basecamp saya bertanya tanya pada penjaga Gunung Lemongan itu, saya kaget waktu bapak itu bilang harusnya kita parkir di bawah kira kira ada 2 km dari basecamp. Alhamdulillah kami diantar bapak tadi sampai ke basecamp terakhir ini. Kami pun direkomendasikan untuk istirahat di watu gede (pos1). Kata bapak itu mungkin waktu yang dibutuhkan sejam-an untuk sampai di watu gede. Saya pun melihat jam ternyata sudah menunjukkan pukul 02.30 dan setelah berpamitan kami pun mulai berjalan dari basecamp.

Basecamp – Watu Gede

Kami pun berdoa sebelum mulai berjalan, setelah berdoa kami mulai berjalan pelan memasuki perkebunan penduduk. Berbekal senter kami melalui jalan yang berbatu dan sedikit menanjak. Tidak terasa setelah melewati anak panah sebanyak 3x kami pun mulai masuk hutan. Jalan menjadi datar namun masi berbatu. Sekitar setengah jam kami pun disuguhkan oleh pemandangan seperti disabana, jalannya semakin naik namun sudah tidak tertutup pohon sekalipun hanya rumput dan pohon pohon kecil, dan bebatuan yang kasar serta angin yang menusuk ke tulang. Jalan yang kami lalui semakin berat medannya membuat teman saya Adit dan Habib berkali kali berhenti untuk minum membuat saya dan Rizal semakin tertawa dan banyak berpuisi untuk memotivasi mereka. Bintang bintang banyak sekali diangkasa dan aku masi mendengar teman teman saling menggerutu. Perjalanan semakin menanjak tajam saya pun sangat lelah dan meminta temanku untuk istirahat sejenak. Saya pun melihat jam. Waktupun menunjukkan 03.45 , harusnya 15 menit yang lalu kita sampai di watu gede. Setelah ngos-ngosan agak hilang, kami pun berjalan menaiki batu batu di atas kami. Tiba tiba disebelah kanan ada batu yang sangat besar di jalur sebelah kanan, namun saya tidak berpikir bahwa batu itu adalah watu gede. Di belakang pun terdengar si Adit mulai lapar. Saya kemudian berjalan melewati jalur disamping tersebut dan kami pun sampai di pos 1 (watu gede). Tanpa pikir panjang kami mendirikan tenda dan makan, sambil berbincang bincang kami memutuskan summit attack nanti jam 06.30. Setelah sholat subuh kami pun tidur.

Summit Attack Gunung Lemongan

Saya merasa tidak tenang dalam tidur saya, suasana dalam tenda yang panas dan silau membuat saya membuka mata, ternyata sudah pagi sekali. Saya melihat jam dan menunjukkan pukul 08:15 pagi, kami kesiangan. Kami pun minum dan sarapan bekal kami semalam. Tepat pukul 08.30 kami pun Summit ke puncak Lemongan. Jalan yang kami lalui semakin menanjak dan berbatu namun puncak Lemongan menemani perjalanan kami. Semakin keatas jalur yang dilewati semakin parah membuat saya akhirnya memecah perbekalan. Saya dengan Rizal, dan Adit dengan Habib kemudian saya dan Rizal berjalan di depan mereka untuk terus memotivasi mereka. Jalan yang kami lalui pun berubah menjadi jalan berpasir halus dan menukik tajam. Ternyata jalur inilah yang dinamakan Tanjakan Menyesal Gunung Lemongan. 4 langkah kaki cuma bisa memuat kita berjalan 1 kaki agak keatas. Sungguh melelahakan, saya dan kawan kawan pun sempat putus asa di track ini. Setelah itu kami coba duduk dan berpikir tentang waktu sampai puncak dan track yang semakin sulit. Tiba tiba ada suara tapak kaki dan pasir serta kerikil turun dari jalur, ternyata ada pendaki lain yang camp diatas. Rizal yang ingin tahu bertanya ke puncak berapa jam dari tanjakan ini. Ternyata kata pendaki tersebut dari tempat kami berhenti 2 jam lagi kami bisa sampai puncak. Nah, kami pun semakin semangat. Jalur pun memasuki hutan lumut, pendaki yang turun semakin sedikit dan air pun semakin tipis. Kami berjalan santai dan sedikit hemat air. Alhamdulillah setelah 30 menit berjalan kami pun sampai di pos 2 (Pos Guci). Kami pun minum dan mengisi air seadanya karena sumber di guci tersebut hanya berupa tetesan tetesan air. Setelah berhenti lama Habib menyuruh saya dan Rizal untuk berjalan lagi karena Habib menunggu air sampai agak terisi, Aku dan Rizal mulai berjalan lagi.

Jalur semakin terang namun menanjaknya masih tetap sama, sedikit sedikit terdapat jalur kerikil bersama pasir. Saya pun berpikir untuk melihat handphone dan memahami estimasi waktu dengan pendaki yang saya tanyai sebelum saya ke Lemongan ini via Twitter. Alhamdulillah sinyal mendukung kegiatan saya hehe. Setelah saya pahami ternyata ketemu sekitar jam 12 kita bisa sampai di puncak. Yah saya mulai semangat dan berjalan sedikit sedikit. Tepat pukul 12.06 saya sampai di puncak Gunung Lemongan. Rasa senang saya membuat saya bersujud karena puncaknya yang indah dan perjalanannya yang ekstrim. Kemudian saya meneriaki Habib dan Adit untuk memotivasi mereka dan setelah 30 Menit mereka pun menyusul kami.

Kembali Ke Watu Gede

Puncak semakin mendung, cuma rombongan kami yang ada disana membuat kami memutuskan untuk turun segera ke camp kami jam 02.30. Berulang kali terdengar petir dan angin yang berhembus kencang, dan baam tepat di hutan lumut kami diguyur hujan angin yang amat deras. Perjalanan semakin berat waktu itu. Berulang kali kaki kami kram saking dinginnya suasana Lemongan turun waktu itu, disepanjang jalan pun kami tidak bertemu sama sekali pendaki disana. Suasana pun semakin mencekam membuat kami berjalan berbaris. Setelah lama berjalan tepat jam 04.30 kami sampai di watu gede. Alangkah kagetnya melihat tenda kami ambruk karena angin, mau minta tolong tidak ada pendaki sama sekali disana.

Hujan mulai terang, saya membuka isi tenda. Tiba tiba saya dikagetkan oleh tenda saya yang terendam air. Baju Adit , Habib ada beberapa yang masih kering. Baju saya alhamdulillah juga masih kering semua karena saya bungkus tas plastik dengan posisi berdiri, tapi tidak dengan baju Rizal yang ditaruh sembarangan. Baju Rizal semuanya basah dan tidak bisa dipakai. Kemudian saya berganti pakaian bersama mereka, Rizal meminjam jaket Adit yang selamat dan membenarkan tenda. Kemudian berdasarkan musibah hari ini, kami memutuskan untuk bermalam di watu gede ini lagi dengan sisa air 1 botol setengah kami memasak dan minum 1 tutup botol per anak. Setelah kenyang kami pun tidur.

Hari Kedua di Watu Gede
Pagi itu saya membuka mata dikagetkan oleh sesosok Rizal yang sedang menjemur baju, saya tersenyum sedikit karena mengingat badai kemarin. Saya membantu Rizal membuat jemuran. Gunung Lemongan pagi itu cerah sekali, daun daun masi basah, cahaya matahari yang hangat dapat dirasakan oleh kulit. Tidak lama setelah itu Habib dan Adit bangun dan kami menjemur pakaian bersama. Setelah baju kami agak kering , kami sarapan seadanya yaitu roti kami yang masih banyak. Setelah makan kami packing dan tepat pukul 09.00 kami pun turun ke basecamp. Ternyata jalan yang kami lewati setelah basecamp parah sekali sampai sampai turunnya sangat curam. Dan jam 10.15 kami pun sampai di basecamp kemudian bertolak lagi. Baju korban kehujanan dan banjir di tenda.

Pesan Kesan :

Gunung Lemongan mengajarkan kami tentang banyak hal , bahwa alam tidak selalu ramah pada manusia, jadi jangan remehkan alam meskipun dengan hal kecil seperti kalkulasi air yang tidak terlalu mepet, tas plastik/trashbag untuk membungkus baju bersih dan kering.

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Note : Tulisan ini sebelumnya menjuarai sayembara menulis kisah ekspedisi oleh komunitas pendaki gunung Track Mountain. Dimuat ulang untuk tujuan pengarsipan.