Jangan Lupa untuk Terus Melawan

Posted by

Kredit Ilustrasi : Nobodycorp

Apapun hasilnya, harus tetap disyukuri. Meskipun hasil tersebut baik atau pun buruk. Toh segala upaya telah kita lakukan. Apalagi sudah semaksimal yang kita bisa. Sebab, menurut ajaran agama dunia ini cuma sementara.

Kita boleh mengharapkan sesuatu yang ideal. Akan tetapi kita harus tau akan batas-batas diri kita ini. Biar tidak setres katanya, bahkan menjadi ‘gila’ pada ujungnya. Begitulah petuah yang diberikan ayahanda kurang lebih dua hari lalu. Akan tetapi suaranya masih menggaung di telinga saya.

Hingga hari ini. Saat saya dan khalayak publik mengetahui skor CPI (Corruption Perspection Index) Indonesia tahun 2018. Diketahui hasilnya cukup menggembirakan. Di tahun 2017 Indonesia masih masuk urutan ke 97 negara terkorup di dunia dengan skor berkisar 37. Sementara di tahun 2018 Indonesia mengalami peningkatan tiga angka menjadi peringkat 89 dengan tambahan skor menjadin 38 [1].

source : Transparency International

Alhamdulillah kita syukuri saja. Apalagi bila gerakan anti korupsi di Indonesia ikut-ikutan hashtag 10 years challenge, pasti kita akan lebih bersyukur. Sebab, Indonesia selalu mengalami peningkatan di sektor pencegahan maupun pemberantasan korupsi.

source : Transparency International

Meski kenaikannya banyak yang menilai tak terlalu signifikan. Ah tapi jangan salahkan gerakan anti korupsinya. Akan tetapi mari, ayo koreksi diri kita ini. Sudah sejauh mana, sudah apa dan harus bagaimana kita setelah ini. Khususnya menghadapi hantu korupsi yang lebih mengerikan dari ‘hantu PKI’ ini, eh.

Jangan terlalu risau, perbanyaklah menghela nafas panjang. Sebab korupsi itu persoalan yang dinamis. Maka dalam perlawanannya haruslah dinamis pula. Bukan dengan cara yang statis. Harus ada cara baru harus ada resolusi baru.

Misalnya dengan mendorong kembali gerakan rakyat. Perubahan paradigma gerakan atau yang lainnya. Apalagi ini di tahun politik. Tahunnya pergantian jabatan-jabatan penting di Indonesia. Maka tak hanya terjebak dalam lokus paradigma demokrasi prosedural merupakan kewajiban.

Bahwa rakyat Indonesia dari berbagai kalangan jangan hanya terpaku oleh pemilihan aktor politik saja. Akan tetapi pasca pemimpin kita terpilih apa yang harus kita lakukan? Ingatlah demokrasi tidak sebecanda itu. Ingatlah korupsi tengah mengurat akar!

Oleh sebab itu jangan lupa untuk terus melawan. Mulai dari lini yang terkecil yakni diri sendiri misalnya. Sebab tentu semua orang memiliki cita-cita yang luhur agar negara yang dicintainya terbebas dari korupsi. Musuh utama bagi prinsip-prinsip keadilan sosial itu. Agar nanti kita tidak risau seperti saat ini.

Berjam-jam menunggu skor CPI Indonesia mengalami peningkatan pesat. Sadar pemerintahnya, sadar rakyatnya. Tentu kita semua memikiki keinginan seperti Denmark, Finlandia atau Selandia Baru. Yang tidur nyenyak sehari sebelum pengumuman CPI. Sebab sudah dibekali keyakinan bahwa hari esok mereka masuk lima besar negara terbersih dari praktik korupsi di dunia.***

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Rujukan :

1. Baca Laporan Transparency International tentang Indeks Perspektif Korupsi tahun 2018 di laman resmi Transparency International.
Link akses :
https://www.transparency.org/cpi2018