Dua Hari Rasa Seharian

Posted by

Kredit Ilustrasi : rupagawe.com

Belakangan saya rasa waktu berlalu amat begitu cepatnya. Seolah dua hari terasa hanya satu hari saja. Sebab, seringkali saya gunakan pagi untuk tidur seharian. Sementara malam untuk beraktivitas sebagaimana mestinya pagi. Aktivitas itu pun tak jauh-jauh dari sekedar minum kopi di kedai, baca artikel online dan cetak serta menulis. Tak banyak lagi aktivitas lain selain itu, maklum karena sedang liburan.

Di lain sisi saya ingin bercerita kalau saya sedang tertarik dengan gaya kepenulisan satir. Sebab dari tulisan-tulsan satir itulah saya belajar apa yang jarang dilihat orang tapi penting bagi orang. Selain itu dampaknya pun luas dan tak main-main. Mungkin karena saya bukan ahlinya, terpaksa saya harus menerima pil pahit itu. Dua jam yang lalu saya harus berlapang dada karena artikel satir saya yang ke 8 harus di tolak kembali.

Kendati demikian saya tak merasa risau sama sekali. Saya ingat kata seorang teman saya waktu itu yang bilang : kalau tulisan kita ditolak artinya kita harus banyak membaca lagi. Ya, obatnya adalah membaca, membaca artikel-artikel satir yang banyak itu. Kebetulan di Sidoarjo saya tidak membawa buku-buku juga. Sementara headline berita nasional tak jauh-jauh dari politik menjelang pilpres.

Wajar saja, mungkin hanya Indonesia yang menganggap 2019 merupakan tahun politik. Sehingga gaduh-gaduh hanya soal politik. Padahal di bagian bumi yang lain fenomena-fenomena yang makin rumit berkelindan dengan kemajuan-kemajuan baru yang sedang terjadi. Seperti Donald Trump yang mengakhiri Shutdown. Namun, Amerika Serikat tengah memiliki gejolak baru lantaran tiba-tiba ngotot berpihak pada oposisi Nicolás Maduro Moros pada krisis politik yang terjadi di Venezuela.

Amerika diketahui menyatakan dukungan dan mengakui oposisi Maduro (Guaido) sebagai pemerintahan yang sah. Bahkan aksi ini sampai di desakkan ke Dewan Keamanan PBB. Sementara penolakan intervensi Amerika Serikat datang dari Rusia maupun China. Apakah ini perang dingin? Entah.

Sementara di sisi lain dunia sedang memikirkan perekonomiannya ke depan. Apalagi pasca World Economy Forum (WEF) mengadakan pertemuan di Davos Swiss pada 22-25 Januari lalu. Meski forum tersebut lebih banyak menunjukkan pesimisme dunia. Jack Ma selaku CEO Alibaba misalnya yang mengakaitkan perkembangan teknologi yang berkelindan dengan perang. Atau George Soros yang habis-habisan mengkritik Xi Jinping (Presiden Tiongkok), lantaran Soros menduga perkembangan teknologi di China hanya akan menguntungkan otoritas Xi Jinping.

Tapi di balik itu Singapura sedang menyambut pasar bebas ASEAN dengan mobil listriknya. Sementara di Asia Timur, Jepang sedang mempersiapkan 5.0 Society. Semua gambaran diatas setidaknya menggambarkan bahwa di balik keributan-keributan dunia, mereka masih segan untuk membuat kemajuan. Inilah sedikit gambaran dua hari rasa satu malam saya. Saya sedang sibuk membaca perkembangan dunia sampai-sampai lupa untuk tidur.

Tapi setidaknya saya mendapatkan nilai dari pengembaraan literasi saya ini. Bahwa dunia memang selalu menghadapi kekalutan, kesedihan dan keterputusasaan. Akan tetapi tidak terlalu fokus dan terlalu pesimis kesana. Sekali-kali mereka memikirkan kemajuan. Sekalipun hal itu baginya masih abstrak.

Fenomena yang belakangan sangat jarang ditemukan di Indonesia. Diantara dinamika begitu persoalan yang terjadi. Mungkinkah ini memang esensi daripada demokrasi liberal itu? Sebab demokrasi liberal memang sukanya ribut-ribut. Saya yakini Indonesia memang belum waktunya. Sebab masih terbelit oleh berbagai persoalan.

Maka jangan lupa tuntaskan persoalan lebih dulu. Salah satunya di sektor korupsi. Kebetulan nanti siang pukul 13.00 WIB Transparency International akan merilis skor Corruption Perspection Index (CPI) tahun 2018. Semoga peringkat Indonesia semakin baik. Khususnya di tengah kabar miring soal perekonomian yang dirilis oleh The Economist. Sebuah majalah asal Inggris yang pro kepada mekanisme pasar itu.***

Penulis Faris Fauzan Abdi Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang