Bertemu Pak BW

Posted by

Kredit Foto : Dok Pribadi

Singkat saja, cerita ini berasal dari pengalaman pertama kali saya bertemu pak Bambang Widjojanto alias BW. Pertemuan ini terjadi ketika Kota Malang sedang berkhidmat merayakan Hari Anti Korupsi Internasional (HAKI) di tahun 2017. Kebetulan waktu itu saya sedang mengikuti rentetan acara lomba esai bertajuk “Anti-Corruption Generation Competition” (ACGC) yang sedang diadakan oleh Malang Corruption Watch (MCW). Sebuah lembaga yang menjadi patron gerakan sosial anti korupsi di Kota Malang tersebut.

Saat kedatangannya, Pak Bambang Widjojanto membuat semua mata terbelalak. Begitu pula dengan saya yang sedang mempresentasikan essay. Semula orang-orang yang sedang berdiskusi tiba-tiba berdiri hanya untuk memberikan senyuman bahkan tepuk tangan. Saya ingat betul bahwa saat itu saya pun tidak konsen dibuatnya. Beliau ditemani oleh dua orang akademisi.

Yang satu asalnya dari Universitas Trunojoyo Madura. Sementara yang satunya dari Universitas Muhammadiyah Malang, kanda Lutfhi J Kurniawan. Beliau bertiga seperti tergesah-gesah untuk mengarah ke arah gazebo belakang. Saya pun berlanjut dan diperkenankan oleh panitia untuk mengikuti sesi ‘ngopi’ dengan pak BW di gazebo belakang. Saat itu saya duduk dengan beberapa panitia, badan pekerja MCW dan peserta Essay. Tentu sambil ditemani oleh secangkir kopi hangat.

Sesi ini dibuka dengan pertanyaan yang diajukan oleh Pak BW.

Sedang ada acara apa selain perayaan HAKI?

Pertanyaan itu sontak dijawab oleh badan pekerja MCW bahwa sedang ada lomba essay anti korupsi. Beliau mengapresiasinya dengan baik sambil tersenyum lebar.

Wah itu bagus, ini kan pesertanya?

Kami semua mengatakan “iya pak”. Saya saja yang saat itu bilang ‘enggeh’. Karena biar orang-orang tau kalau saya seorang Jawa. Kemudian sesi ngopi ini berlanjut ke pertanyaan tentang judul essay beserta isinya. Pertanyaan tersebut dibuat melingkar dan berurutan.

Ayo mulai dari mana dulu ini?” Tawar Pak Bambang Widjojanto.

Ternyata dimulai dari sisi kanan meja yang paling dekat dengan beliau. Yang dimana saat itu banyak diduduki oleh peserta lomba kategori Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat itu ada yang menganggkat tema perlawanan terhadap korupsi melalui rumah budaya, lagu dan sebagainya. Di sisi lain, kategori mahasiswa pun tak mau kalah. Mereka mengajukan judul dan tema UKM Anti Korupsi, Reformasi hukum, pentingnya LSM dan lain-lain. Setelah mendengar semuanya, jujur saya ciut.

Lah kamu mas? Mengangkat apa?” Tanya Pak Bambang Widjojanto dengan menatap ke saya.

Saya waktu itu gagap karena ciut. Di lain sisi masih gemetar karena barusan presentasi di depan ketua AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Kota Malang. Namun akhirnya saya jujur dan mengatakan dengan lirih kalau saya mengangkat tema pendidikan. Dengan judul “Pendidikan Tinggi dalam Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi”.

Namun alangkah kagetnya saya ketika Pak BW menimpali gagasan saya ini dengan positif.

Ini yang menarik. Bahkan sedang kami kaji lebih dalam dengan banyak akademisi. Tanya saja beliau ini.” Kata Pak Bambang dengan menunjuk ke arah akademisi Trunojoyo yang saya lupa namanya itu.

Akademisi tersebut pun mengiyakan hal itu. Disinilah sejujurnya saya merasakan senang tak ketulungan. Betapa tidak, essay yang saya dalami hampir 3 bulan, semalaman tak tidur bahkan harus meluangkan beberapa jam untuk membaca di kantin kampus akhirnya mendapat apresiasi yang cukup baik. Lanjut pak Bambang bertanya begini.

Seperti apa mekanisme pendidikan yang kamu angkat?

Saya menjelaskan kalau ini lebih berfokus kepada bagaimana korupsi mampu dilawan daei semua lini disiplin keilmuan. Karena waktu itu literatur utama refrensi saya adalah buku Pendidikan Anti Korupsi untuk Perguruan Tinggi yang dicetak oleh KPK dan bekerja sama dengan Kemenristekdikti [1].

Baguslah bagus” jawab Pak Bambang diiringi forum yang tiba-tiba hening.

Lalu beliau bercerita kepada kita semua tentang pentingnya peran pemuda dalam perjalanan dinamika kebangsaan. Dilihat dari peran sentralnya dalam perspektif historis dengan di bumbui kondisi objektif hari ini. Saya terinspirasi juga takjub dalam hal ini. Mengingat masih sedikitnya kalangan intelektual menyoal korupsi ini. Bisa dilihat dari jumlah peserta yang saat itu hanya puluhan orang.

Padahal Kota Malang bahkan seluruh kota di Indonesia saya yakib memiliki ribuan perguruan tinggi berikut mahasiswa bahkan jebolannya. Tapi untuk peduli akan kondisi bangsa yang koruptif ini nampaknya hanya sekian persen saja. Padahal korupsi merupakan hal yang menyebalkan. Se-menyebalkannya si koruptor malah tersenyum dan dadah-dadah ketika OTT menjeratnya. Yang siap memberangus hak-hak kita akan cita cita keadilan ekonomi sosial dan politik.

Maka dari itu sudah sewajarnya kita seluruh elemen masyarakat bergelut dengan korupsi ini. Sebab secara filosofis maupun yuridis tugas kita adalah memberangusnya. Coba baca saja UU Tipikor terkait peran masyarakat [2]. Begitulah opini saya yang tersemat itu. Teruntuk kalian, seluruh masyarakat Indonesia.

Acara ini berakhir dengan sejenak namun khidmat. Karena saya ketahui Pak Bambang Widjojanto hanya sekedar ‘mampir’. Berikutnya beliau harus membuka peresmian LBH Pos Malang. Meski hanya berakhir sebentar namun setidaknya saya sudah terinspirasi dalam hal ini. Terkhusus untuk selalu memberikan gagasan dalam setiap hela nafas perlawanan terhadap perilaku korupsi.

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.

Kepustakaan :

1. Download buku “Pendidikan Anti Korupsi untuk Perguruan Tinggi” di laman resmi KPK.
Link akses :
https://aclc.kpk.go.id/wp-content/uploads/2018/07/Buku-Pendidikan-Antikorupsi-di-Perguruan-Tinggi.pdf

2. Baca BAB V tentang Peran Serta Masyarakat dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi No 31 tahun 1999.
Link akses :
https://www.kpk.go.id/images/pdf/Undang-undang/uu311999.pdf