Bertemu Prof Rocky dan Haris Azhar

Posted by

Kredit Foto : Dok Pribadi

Pada tanggal 17 Desember 2018, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Malang megadakan seminar terkait Hak Asasi Manusia (HAM). Seminar Nasional yang bertajuk “Human Right Education For Justice” ini pula diadakan untuk memperingati hari Deklarasi Universalitas Hak Asasi Manusia (DUHAM) yang diperingati sebagai Hari HAM Internasional setiap tanggal 10 Desember. Pengalaman mengikuti seminar ini saya rasa menarik. Pasalnya dari seminar inilah saya pertama kali bisa bersua dengan Prof Rocky Gerung dan Hari Azhar. Dua tokoh pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) yang selama ini hanya bisa kita pantau lewat acara televisi maupun media sosial.

Singkat cerita, saya mendatangi acara tersebut sebagai seorang tamu karena masuk kategori 12 esais terbaik pada lomba esai yang diadakan oleh BEM Universitas. Namun sayangnya waktu itu saya harus telat menghadiri acara lantaran berbenturan dengan jam kuliah. Acara dimulai pukul 08.00 WIB tapi saya baru di tempat sekitar pukul 10.30 WIB. Saya masuk ketika Prof Rocky Gerung sedang berbicara diatas podium. Saya sendiri masuk dengan ditemani oleh salah satu panitia.

Namun di sini panitia bingung lantaran kursi tamu di depan sudah penuh. Saya hanya bilang ,

“udah gak papa mas saya di belakang saja”.

Lalu mas panita itu menjawab, “sekali lagi mohon maaf yang, sebesar-besarnya ya mas.”

Setelah itu, ia memberikan bingkisan seminar dan beranjak pergi. Sementara saya berjalan ke belakang untuk mencari bangku yang sekiranya masih kosong. Saya akhirnya menemukan bangku di deretan kedua dari belakang. Tentu yang jaraknya cukup jauh dari panggung utama seminar.

Meski kesal, namun saya anggap ini wajar. Karena pasti mahasiswa yang mengamati isu-isu sosial politik dan tertarik dengan HAM pasti berantusias untuk datang. Tak jadi masalah bagi saya, bahkan ini merupakan indikator bagus. Saya membuka bingkisan seminar berupa roti, air minum, notebook dan bolpoint. Karena belum sarapan, saya memakan roti tersebut dengan sekali-kali mencatat apa tang diucap Prof Rocky.

Makannya saya tidak mau kalau biografi saya dicatat oleh anak-anak panitia. Kan saya masih hidup? Jadi biografi saya kan masih dinamis?” Kata Prof Rocky lantang.

Ilustrasi Prof Rocky Gerung

Saya pikir-pikir argumentasi ini masuk akal, saya pun agak tertawa. Sekali-kali beliau juga mengutarakan beberapa data risetnya terkait logika terbalik pemerintah ikhwal pemenuhan gizi. Dari seluruh gaya bicaranya, saya yakin bahwa Prof Rocky Gerung ini orang filsafat tulen. Dengan gaya bahasa dan analisis yang luas terutama dalam hal semiotika bahasa. Salah satu pesan beliau yang saya tulis dengan huruf kapital di buku saya yakni :

Lihatlah apa yang tidak orang lain lihat, ketahuilah apa yang tidak orang lain tahu.”

Sisanya, masih saya simpan baik-baik di otak saya. Pasca itu turunlah Prof Rocky Gerung dari podiumnya. Pertama saya kira sesi pidato beralih kepada Haris Azhar. Eh ternyata tidak. Malahan kali ini sudah masuk kepada sesi tanya-jawab.

Mungkin inilah karma yang harus saya terima atas keterlambatan saya. Tapi rupanya saya agak beruntung. Pasalnya ada pertanyaan dari seorang mantan buruh PT Freeport McMoRan yang sedikit dibumbui duka citanya yang amat sangat. Pertanyaan itu seputar bagaimana nasibnya kelak, ditambah beberapa cerita buruh bersama kawan-kawannya saat memperjuangkan nasibnya di Freeport. Pertanyaan itu pun dijawab Harish Azhar dengan bercerita saat ia masih tergabung di KontraS.

Ilustrasi Haris Azhar

Cerita itu cukup panjang, akan tetapi sebenarnya menyimpan poin-poin yang bagi saya cukup tabuh untuk di bahas disini. Karena saya pula tak punya legalitas untuk mengutipnya disini. Namun bagi saya, inilah uniknya Haris Azhar. Beliau hampir sama dengan apa yang di ucapkan Prof Rocky Gerung sebelumnya. Bahwa beliau merupakan orang yang suka melihat apa yang tidak orang lain lihat dan pahami secara umum.

Misalnya ketika beliau mendalami kasus Alm Freddy Budiman beberapa waktu lalu. Inilah kasus yang membuat saya pertama kali mengenal Haris Azhar sebagai Koordinator KontraS.

Setelah Haris Azhar usai menjawab, sesi pertanyaan berlanjut. Kali ini pertanyaan dilemparkan ke forum. Saya yang menyimpan segenap pertanyaan pun tak mau kalah. Saya mengacungkan tangan dengan harap pertanyaan saya mampu di elaborasi disini.

Pertanyaan pertama : “Apakah pelarangan rambut gondrong merupakan pelanggaran HAM?”

Pertanyaan kedua : “Apakah tertutupnya tata kelola birokrasi kampus secara tidak langsung melanggar hak akses informasi oleh mahasiswa?”

Namun naas pertanyaan ini tidak mampu terlontarkan lantaran saya tidak ditunjuk oleh moderator. Sehingga yang muncul adalah pertanyaan-pertanyaan umum. Malah, ada salah satu pertanyaan berbau sinisme politik dari mahasiswa pascasarjana yang ditujukan kepada Prof Rocky Gerung. Semua terfokus pada pertanyaan ini sehingga melupakan bagaimana bentuk-bentuk pelanggaran HAM kecil di kampus. Kemudian yang perlu disayangkan lagi adalah bahwa sampai di akhir seminar pun tak saya temui pakta, deklarasi yang sifatnya mengikat.

Khususnya dalam mengawal penegakan HAM sebagai salah satu intervensi politik pada pemilu hari ini.***

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang