Krian

Posted by

Kredit Foto : Dok Pribadi

Slogan “kota kecil sejuta kenangan” yang saya dapat dari media-media sosial arek-arek Krian agaknya layak untuk saya afirmasi. Pasalnya, di kecamatan kecil inilah saya pertama kali membuka mata dan menjalani kehidupan masa kecil saya dari tahun 1997 sampai 2007. Meski kemudian saya akhrinya pindah ke Desa Tanggul Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo. Tapi menjadi arek Krian merupakan sebuah kebanggaan tersendiri meskipun saya tidak tinggal lagi di kecamatan ini. Setidaknya ari-ari dan air ketuban ibu saya pertama kali jatuh disini kan?

Ngomong-ngomong saat masih kecil saya hidup di Desa Gresikan yang merupakan nama desa kecil di Kecamatan Krian ini. Di desa inilah saya menghabiskan waktu seperti mandi di kali, bermain layang-layang, gobak sodor bahkan mencari kecebong saat musim hujan tiba.

Pokoknya seputar aktivitas anak desa pada umumnya lah. Kendati demikian, saya bangga menceritakannya. Pasalnya budaya ini belakangan agak bergeser akibat perkembangan teknologi, informasi dan warung kopi ber- WiFi.

Bahkan kemungkinan masa ini akan punah dan tumbulah generasi-generasi individual dengan generasi melek teknologinya yang mutakhir. Inilah yang harus kita cermati dengan memberikan dampak-dampaknya.

Dampak positifnya mungkin akan menghasilkan generasi-generasi maju, termutakhir soal teknologi. Selama teknologi ini di gunakan dengan sewajarnya. Apabila tidak, teknologi ini akan meretas segala sisi-sisi humanisme generasi kita.

Di tengah budaya untuk menjalin relasi sosial yang sempit lantaran waktunya yang habis untuk rutinitas pendidikan, ini bahaya. Karena tanpa sadar teknologi ini meretas budaya untuk menjalin relasi sosial ini.

Apalagi berbicara dampak lan, lingkungan misalnya. Dengan semakin antinya anak-anak akan mandi di sungai, memancing belut dan lain lain, pertanyaannya akan pedulikah mereka terhadap lingkungan sekitar di era ini?

Seperti kali yang dipenuhi sampah, kotoran manusia dan lain-lain. Lalu kira-kira, akan pedulikah kita terhadap alih fungsinya lahan-lahan persawahan menjadi pabrik atau perumahan?

Sehingga inilah pekerjaan rumah bagi Dinas Kebudayaan Kota Krian maupun daerah lainnya. Jangan sebatas berfokus untuk mempertahankan budaya yang sifatnya umum seperti tarian atau jajanan khas.

Akan tetapi berikan pendidikan budaya yang lain seperti permainan antar teman sebaya, permainan tradisional bagi anak-anak di era Revolusi Industri 4.0 ini. Pasalnya, ini erat kaitannya dengan kebutuhan bangsa terkait revolusi industri ini yakni soft skill.

Kembali ke pembahasan kita soal Krian. Salah satu nilai plus dari daerah ini, ia memiliki populasi pemuda yang cukup banyak. Apalagi pemuda di sini sangat gemar membentuk komunitas seperti komunitas supporter bola, penggemar musik dan lain-lain. Sehingga penting membaca peluang ini, terkhusus bagi pemberdayaan pemuda dalam rangka memajukan Krian.

Bahkan karena ini saya memiliki cita-cita untuk membuat sebuah warung kopi berbasis literasi dan diskusi. Namun ini belum saya lakukan lantaran saya masih harus riwa-riwi Malang-Sidoarjo untuk menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi saya. Selain itu, ada keterbatasan terkait akses permodalan. Jadi tunggulah kapan-kapan saya akan membuat inovasi ini.

Ini saya tuliskan karena saya bangga menjadi arek Krian. Itulah yang membuat saya akhirnya menuliskan gagasan untuk membangun kecamatan ini dari bawah. Apalagi mengingat lokasi geografis dari kecamatan ini. Seperti yang kita tahu bahwa Kecamatan Krian ini berbataan langsung dengan Kabupaten Gresik, Kabupaten Mojokerto bahkan dekat dengan Kabupaten Surabaya. Tentu sangat potensial sekali.

Tapi ingatlah, bukanlah pembangunan fisik lah yang harus dikembangkan disini. Melainkan model-model pemberdayaan manusianya sebagai human capital untuk pengembangan daerah. Lalu ingatlah ini pembaca budiman, bahwa kecamatan ini di sebut Krian bukan ‘Kerian’. Karena dalam kamus Bahasa Jawa, ‘Kerian’ artinya orang yang suka merasa geli.

Jadi ngomong soal Krian bukan ngomong soal geli, kegelian maupun menggelikan. Akan tetapi ngomong soal kebanggaan.***

Salam.

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.