Bangsa Ini Anti Kemajuan ?

Posted by

Kredit Ilustrasi : instagram.com

Saya rasa tulisan ini takkan mampu merubah keadaan sama sekali. Karena bagi khalayak umum tulisan ini takkan lebih penting dari menonton tayangan Debat Pilpres 2019. Di lain sisi, blog saya ini pun masih seumur jagung begitu pula dengan isinya yang masih jauh dari kesempurnaan.

Ketidaksempurnaan itu terlihat dari analisis yang masih dangkal, berandai-andai dan dipenuhi nada sinis terhadap kondisi negara hari ini. Tak heran jika salah seorang teman saya waktu itu menganjurkan “makannya jangan baca dan belajar lewat buku saja!

Tak perlu bercerita panjang lebar, tak usah di besar-besarkan. Lantaran mungkin ia lebih melihat saat ini saya banyak berbicara soal referensi. Sementara ia seorang player Mobile Legend yang radikal. Namun berangkat dari fakta ini, agaknya kita (para pegiat literasi) harus bersyukur. Setidaknya kita masih punya angan dan mawas diri terhadap perkembangan.

Meskipun di abad ini kita akan menemukan bahwa makin sedikit orang-orang yang seperti kita. Tapi janganlah patah hati, teruslah membaca, berdiskusi dan melahirkan karya yang berorientasi kepada perubahan sosial.

Karena itulah hal terakhir yang harus ditegaskan, ditengah kebodohan dan pembodohan yang terjadi. Bahagia pun tak bisa dikatakan bahagia secara substantif, toh semuanya ilusi semata?

Parahnya kebodohan ini pula terkesan dibiarkan negara, dibudayakan bahkan dilembagakan. Ini saya katakan karena beberapa waktu yang lalu sedang masif razia buku oleh aparat militer. Alasannya, diduga buku-buku tersebut ber-indikasi mengandung paham-paham komunis. Karena menurutnya paham komunisme di negeri ini sudah dilarang keras oleh TAP MPRS Nomor XXV tahun 1966 (baca BBC, 2019) [1].

Meski beberapa buku akhirnya tak terbukti bicara soal komunisme, bahkan menyulap pembacanya menjadi seorang komunis dengan kepala ‘palu arit’ (baca Tirto, 2019) [2].

Buku-buku tersebut kebanyakan hanya bicara soal fakta sejarah. Sayangnya belum sempat di baca, eh “diamankan”, (bahasa peralihan yang tenar di era Orde Baru). Pertanyaannya kan ada apa? bukankah lebih baik kita mengetahui fakta sejarah ini?

Wong ketika misal ketika dibaca pun tak ada lagi yang bisa diperbuat. Yang diperlukan adalah bagaimana tragedi tersebut tak terjadi kembali. Tragedi yang menjadi catatan kelam pelanggaran HAM berat versi internasional!

Namun bagi saya, baik di TV baik fakta-fakta yang baru muncul, agaknya saya lebih percaya akan terma “sejarah meskipun itu buruk, dan dibuat-buat ia tetaplah guru kehidupan.” Saya katakan ini karena waktu tragedi 65 terjadi, saya masih di alam tertentu. Bahkan ayah dan ibu saya belum menikah.

Sehingga siapapun itu selama tidak menjadi saksi sejarah, sejatinya pasti tidak mau sembarangan menjadi hakim adil. Hanya saja kalau memang ada kasus hukum yang belum tuntas ya diselesaikan dong. Kalau tidak bisa ya pakai cara kekeluargaan. Ini saya katakan bukan karena saya mendukung si ini dan si itu, tapi posisinya kita bukan pelaku-pelaku sejarah. Kita hanya memetik apa yang diperoleh dari sejarah hari ini.

Makannya saya bisa saja menyumpah, mengutuk mengecam disini sebagai rakyat. Apalagi baik sejarah, sastra, filsafat dan ilmu pengetahuan yang lainnya tentu bertujuan membawa kita ke dalam kemajuan. Ini pula berlaku kepada buku-buku yang secara eksplisit mengandung faham komunisme. Pertanyaannya apakah salah ketika kita baca buku itu? Apakah dengan membacanya maka kita auto komunis berkepala ‘palu arit’ ? Kan tidak !

Atau jika anggapan ini di iyakan oleh pemerintah, maka akan saya katakan bahwa inilah bukti “kejahilliyahan”. Sebuah bukti kedunguan berpikir karena tidak membaca. Karena mungkin benar kata Muhidin M Dahlan dalam sebuah essaynya yang berjudul “Ketegangan Literasi dan Militer“, bahwa literasi dan militer ibarat ‘minyak dan air’ yang sangat sukar untuk disatukan (baca Tirto, 2016) [3]. Padahal musuhnya disini hanya buku, yang hanya akan membawa kita pada imaji dan intepretasi.

Syukur-syukur ketika kita membacanya kita dapat tercerahkan dan mulai memikirkan negara dengan segala masalahnya begitupun dengan solusinya. Mirisnya lagi, buku yang di razia merupakan buku yang sudah memiliki izin edar dan ber-ISBN. Artinya kan layak untuk di edarkan. Lalu kenapa tidak mengintrogasi penerbit izinnya saja? Mengapa kok harus ke lapak-lapak buku kecil. Anehnya lagi kok malah di masifkan di era Pilpres.

Bagaimana jika aksi ini tiba-tiba memicu konflik horizontal ? Bisa saja masyarakat yang marah, atau di daerah lainnya malah merusak lapak penjual buku, bahkan menghajar habis-habisan penjual buku ‘kiri’ lainnya. Wong keadaannya hingga hari ini masyarakat masih ‘phobia’ terhadap komunisme. Siapa yang menjamin ini tidak akan terjadi? Apalagi beberapa waktu lalu Presiden Jokowi gencar dituduh keturunan komunis, meskipun hal tersebut sudah tak terbukti sama sekali.

Namun inilah negeri kita yang kita cintai itu. Dengan berbagai macam adat, suku budaya bahkan orang-orangnya.

Tak lupa dengan berbagai persoalannya, termasuk langkah ‘mundur’ drastis yang direpresentasikan oleh drama razia buku ini. Kenapa gak sekalian semuanya saja yang di razia?

Biar tak ada lagi yang berbicara soal sejarah, filsafat dan keseluruhan ilmu pengetahuan. Bukankah hal itu memang yang sedang diharapkan. Keadaan yang pada akhirnya memaksa rakyat untuk mudah di plokotoi, di ombang-ambingkan, dikomodifikasikan subjek politiknya. Di lain sisi, kata ‘pemerintah akan lakukan ini itu’ selalu digaungkan. Sementara rakyat semakin tidak bisa apa-apa, tak terdidik, dikasihani pun hanya dari belas kasihan pemerintahnya saja.

***

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Kepustakaan :

1. Baca Artikel BBC News yang berjudul “Mengapa Buku-Buku Berhaluan Kiri Menjadi Sasaran?” pada tanggal 09 Januari 2019. Link akses :
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46796449

2. Baca Artikel Tirto.id yang berjudul “Apa Isi Buku-Buku yang Disita TNI Sepanjang Desember-Januari?” pada tanggal 17 Januari 2019. Link akses :
https://tirto.id/apa-isi-buku-buku-yang-disita-tni-sepanjang-desember-januari-devc

3. Baca Rubrik Kolom Tirto.id oleh Muhidin M Dahlan dengan judul “Ketegangan Literasi dan Militer” pada tanggal 27 Agustus 2016. Link akses :

https://tirto.id/ketegangan-literasi-dan-militer-bEwE

One comment