Membuka Wajah Tuan dari Seluruh Umat Manusia : Sebuah Resensi

Posted by

Judul buku : Who Rules the World
Penulis : Noam Chomsky
Penerjemah : Eka Saputra
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 398 halaman
Cetakan : Pertama, Januari 2017
ISBN-13 : 978-602-291-287-3

***

Munculnya Amerika Serikat (AS) sebagai negara super power pasca runtuhnya Uni Soviet (USSR) di era perang dingin, agaknya menjadi suatu misteri yang harus sekali-kali kita pertanyakan. Bagaimana bisa pengaturan-pengaturan global, hukum-hukum internasional bahkan hak istimewa dalam forum-forum internasional selalu memihak mereka? Bahkan karenanya, AS dianggap sebagai wajah baru imperium abad 21 sejak menggeser Inggris di abad ke 19. Saya rasa jawaban dari pertanyaan diatas hanya bisa kita temukan dari tulisan-tulisan Avram Noam Chomsky dalam bukunya yang berjudul “Who Rules The World”. Karena dalam buku ini, Chomsky membeberkan banyak fakta-fakta sejarah yang dikutipnya dari berbagai sumber yang relevan, bahkan sebagian masih berlaku hingga hari ini.

Hancur leburnya fasisme di era perang dunia kedua menjadi penyebab awal munculnya Amerika Serikat sebagai negara adidaya yang ada di dunia. Lewat buku ini, Chomsky membeberkan fakta-fakta tersebut dalam bab Kemerosotan Amerika, Penyebab dan Konsekuensi. Bahkan, ramalan ini telah jauh-jauh hari diendus AS saat perang dunia kedua masih bergulir. Chomsky dalam hal ini mengutip penilaian seorang pakar bernama Geoffrey Warner dalam sebuah catatan dokumenter bahwa “Presiden Roosevelt mengangankan hegemoni Amerika Serikat di dunia pasca perang”. Sehingga rencana telah jauh-jauh hari mereka susun demi satu tujuan yakni menguasai “Daerah Utama” yang itu mencakup seluruh dunia.

Rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari itu pun tidak terlepas dari faktor-faktor kondisi ekonomi Amerika Serikat. Saat perang bergulir, Amerika Serikat merupakan negara yang paling diuntungkan dalam hal ini. Perang mengakhiri Depresi Besar, kapasitas industri AS meningkat empat kali lipat, sedangkan pesaingnya hancur lebur. Yang lebih gemilang lagi, Chomsky menuliskan kondisi ini terus terjadi hingga era pasca perang. Saat perang dunia kedua usai, Amerika Serikat memiliki setengah kekayaan dunia dan jaminan tiada duanya (hlm 85).

Munculnya Uni Soviet sebagai negara adidaya yang menandingi AS membuat dunia memasuki era perang dingin. Sehingga dunia terbagi atas dua blok hegemonik global antara blok barat (AS) dan blok timur (Soviet). Mereka dalam hal ini memiliki negara anggota di masing-masing bloknya. Sehingga penting untuk menertibkan mereka. Oleh sebab itu, dalam dekade ini tak heran terjadi perang-perang besar yang dinaungi Soviet dan AS dari belakang layar.

Diketahui, saat itu negara-negara dunia ketiga baru lahir, termasuk Indonesia. Dalam hal ini baik AS maupun Sovyet saling berebut dominasi negara-negara tersebut. Namun pada awalnya, Amerika menerima kemerosotan besar karena Republik Rakyat Tiongkok merdeka begitu pula Vietnam. Pil pahit itu juga dirasakan Amerika saat Indonesia memiliki politik internasional bebas aktif saat era awal pemerintahan presiden Soekarno. Sehingga AS untuk menertibkan Indonesia haruslah bekerja lebih keras lagi.

Menariknya, Chomsky dalam hal ini membuka sedikit refrensi yang berbeda dengan Indonesia terkait usaha AS untuk menghegemoni negara ini. Chomsky menulis bahwa Amerika Serikat mulai memainkan perannya di Indonesia saat tahun 1965. Saat itu, bentuk dukungan Amerika Serikat diarahkan kepada kudeta yang dipimpin Soeharto. Kemenangan AS dalam hal ini sangat nyata, meski harus mengorbankan berjuta-juta manusia tak berdosa. “Secercah Cahaya di Asia” tulisan tokoh pengamat liberal bernama James Reston yang dimuat Times sedikit banyaknya menjelaskan bagaimana euforia Amerika Serikat saat itu.

Presiden Soekarno lengser seiring dengan kemenangan kudeta ini. Kudeta ini juga menjadi babak baru berakhirnya politik berbasis kaum miskin, mengukuhkan kediktatoran, menghasilkan catatan buruk pelanggaran hak asasi manusia hingga menghamburkan kekayaan negara terhadap investor barat. “Tak heran ketika setelah begitu banyak kengerian lainnya, termasuk invasi yang nyaris menyerupai Timor Timur, Soeharto disambut oleh pemerintahan Clinton pada 1995 sebagai orang kita”, tulis Chomsky (hlm 112). Amerika makin sukses mendominasi global hingga menyebabkan Uni Sovyet akhirnya runtuh pada tahun 1991.
Dilain sisi, runtuhnya Uni Soviet ini pun menandai munculnya pemenang hegemoni global yang sebenarnya yakni Amerika Serikat.

Namun pertanyaan yang timbul kemudian, apakah Amerika berhenti sampai disitu saja? Jawaban yang paling tepat menjawabnya adalah tidak. Ketegangan dimana-mana masih ia ciptakan, tentu kita masih ingat ketegangan yang terjadi antara Amerika Serikat dan Korea Utara, China, gejolak konflik di Timur Tengah bahkan konflik di Palestina. Semua peran-peran Amerika di dalamnya di ulas Chomsky dalam bab-bab terakhir buku ini. Hal ini yang mendasari mengapa buku ini sangat cocok dijadikan sebagai referensi, khususnya bagi peneliti politik internasional.

***

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang