Pilpres dan Usaha Coba-Coba

Posted by

Kredit Ilustrasi : blogspot.com

MEMBACA tulisan dari Linda Christanty yang berjudul “Suara Tuhan” di Harian Indoprogress, seolah mengingatkan saya pada satu pengalaman unik [1]. Pengalaman mengenai nasib yang suram dari kacamata masyarakat akar rumput. Namun, cerita ini lebih vulgar karena langsung mengkerucut ke arah agenda besar kita. Apalagi agenda besar kita selain Pilpres 2019, yang sedang merayap menuju puncaknya. Cerita ini sendiri terjadi sekitar satu bulan yang lalu di kampus tempat saya berkuliah.

Sore itu, saya hendak pulang ke kos dengan berjalan kaki seperti biasa. Seperti mahasiswa biasanya, saya gemar menyimpan sisa uang mulai dari yang logam sampai yang kertas dalam saku. Saat itu, uang di kantong saya jumlahnya tidak begitu banyak. Hanya Rp 3000 dengan rincian uang satu keping logam Rp 1000-an ditambah satu helai uang kertas Rp 2000-an. Seperti biasanya, ketika uang di dalam saku kurang dari harga kopi maka saya akan membelikannya buah untuk memperbaiki gizi. Kebetulan di kampus saya juga banyak berjajar pedagang-pedagang kaki lima, termasuk yang paling ramai yakni pedagang buah-buahan.

Sialnya-sial, kini pedagang tersebut pindah cukup jauh dari biasanya. Kali ini, pedagang buah pindah ke ujung rute keluar dari kampus saya yang megahnya tidak ketulungan itu. Oke, saya memandangnya wajar. Karena di tempat biasanya ia berjualan sudah berdiri palang yang tegap nan kokoh serta bertuliskan “Pedagang kaki lima, DILARANG berjualan di area kampus”. Saya menduga palang ini dibuat oleh birokrasi kampus, namun saya sendiri belum tahu alasannya karena saya belum pernah menanyakan hal ini.

Kemungkinan besar, mereka berpikir karena pedagang-pedagang tersebut agak sedikit mengganggu karena jalan itu merupakan jalan utama tempat kepala-kepala dengan sepeda motornya berlalu-lalang. Padahal di tempat biasanya buah-buahnya selalu laku oleh uang-uang sisa mahasiswa yang lelah dengan penatnya berkuliah, begitu pula yang terjadi kepada teman-teman seperjuangannya. Tapi ya sudahlah, saya akhirnya memutuskan untuk menuju si pedagang buah itu. Meski jalan pulang saya kali ini agak memutar lebih jauh dari biasanya. Sesampainya di tempat saya langsung memilih aneka buah-buahnya yang segar, saya bertanya kepada si pedagang.

“Pak, kok berjualan disini sekaran?” Kata saya.

“Dapatnya disini mas, kalau berjualan di tempat biasanya harus sore sebelum maghrib.” Kata pedagang buah.

Dengan tanpa menyauti saya kemudian duduk dan berniat menikmati kesegaran buah-buah yang dihasilkan petani-petani kita ini disamping si pedagang yang saat itu berjajar dengan pedagang cilok. Dalam hati saya memikirkan kira-kira apa yang sedang dilakukan oleh birokrasi. Pasalnya, dia dipindahkan di ujung jalan keluar kampus yang posisinya merupakan jalan menanjak. Maka pasti penjualannya berkurang lantaran mahasiswa pasti malas untuk memarkir hanya untuk membeli buah. Terbukti, saat itu jarang sepeda yang lewat berhenti untuk sekedar mampir ke lapak dagangannya.

Sore sebelum maghrib? Mungkin kadang ramai karena ada kelas yang selesainya sebelum maghrib. Tapi apakah se-menguntungkan dulu? kan tidak! Kalut ini saya utarakan dengan mengunyah potongan buah melon lagi. Sementara si pedagang buah dan pedagang cilok saya lihat sedang mesra untuk mengobrol saat itu. Kebetulan karena begitu dekatnya saya dengan mereka, saat itu saya mendengar banyak hal terkait apa yang sedang mereka obrolkan.

Mereka awalnya mengobrol soal harga bahan baku masing-masing barang dagangan, tempat, juga sanak keluarga sampai kebutuhan sehari-hari. Namun alangkah kaget dan tercengangnya saya ketika pedagang cilok bertanya soal Pilpres kepada si pedagang buah.

“Lah soal Pilpres tahun ini pilih siapa?” Katanya.

“Saya? Pilih Prabowo kayaknya mas. Coba-coba aja.” Jawab pedagang buah.

“Loh, kok coba-coba mas?” Tanya pedagang cilok dengan terheran-heran.

“Ya, kan Jokowi sudah pernah pak. Efeknya ya begini-begini saja. Saya masih harus jualan buah karena untuk biaya sekolah anak dan makan sehari-hari.” Jawabnya lanjut.

Saya yang tertarik dengan apa yang sedang mereka obrolkan akhirnya memutuskan untuk ikut bicara dengan alih-alih membeli buah lagi.

“Pak, ini kita ngomongin nasib masyarakat lima tahun ke depan loh.” Kata saya menyauti.

“Benar kata masnya mas.” Saut pedagang cilok.

“Ya tidak tahu lagi mas (sambil tertawa). Intinya dalam pilpres ini apa kata nanti saja.” Sambung si pedagang buah.

Obrolan kemudian berakhir disitu saja ,lantaran keduanya tiba-tiba harus melayani pembeli. Seketika itu saya akhirnya meninggalkan tempat sembari mengantongi sebuah fakta. Bahwa dari kalangan masyarakat akar rumput pun masih mengalami kebuntuan dalam memilih salah satu dari calon yang sudah terdaftar dalam kontestasi pilpres 2019 ini. Memang disini saya hanya mengantongi satu sampel saja, belum secara keseluruhan. Tapi, tidak menutup kemungkinan nantinya dapat merepresentasikan keseluruhan dari mereka.

Mumpung masih ada waktu menjelang puncak pilpres kita ini, saya punya sedikit alternatif. Sekali-kali bolehlah kita adakan diskusi terbuka mengenai ini dengan menghadirkan mereka. Mereka disini adalah kelas-kelas yang sengaja dilemahkan seperti pedagang kaki lima, jukir, satpam dan lain lain. Karena mereka secara keseluruhan tidak mungkin searching, baca media mainstream, baca buku atau bahkan mudah diorganisir dalam sebuah wadah seperti serikat buruh dan tani. Maka tak ada salahnya jika dalam momentum liburan dan tahun baru ini kita memikirkan pola apa yang dapat kita gunakan nantinya.

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Pustaka :

1. Baca Linda Christanty dengan judul “Suara Tuhan” di Harian Indoprogress link akses :

https://indoprogress.com/2018/12/suara-tuhan/