Kemelut Masa Kecil Era Penjajahan : Sebuah Resensi

Posted by

Judul : Di Tengah Keluarga
Penulis : Ajip Rosidi
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya
Tahun Terbit : 1956
Halaman : 140
Tebal Buku : 1 cm
Jenis Buku : Fiksi/Sastra

Buku ini merupakan kumpulan cerpen yang ditulis oleh sastrawan kondang bernama Ajip Rosidi. Selain menjadi sastrawan, ia juga merupakan seorang budayawan, dosen, penulis, redaktur di beberapa penerbit hingga ketua Yayasan Kebudayaan Rancage [1]. Dalam dunia sastra, ia dikenal sering menulis drama, cerita rakyat, cerita wayang, lelucon bahkan menjadi penyunting beberapa bunga rampai. Sudah berpuluh-puluh karya sastra ia diterbitkan, tak jarang pula mendapatkan beragam penghargaan. Salah satu karyanya yang fenomenal tersebut adalah kumpulan cerpen “Di Tengah Keluarga” ini.

Setidaknya saya memiliki alasan mengapa saya harus meresensi buku ini. Pertama, memenuhi permintaan dari seorang teman yang memberikannya. Kedua, saya ingin mengintepretasikan pesan moral yang ingin disampaikan Ajip lewat karyanya ini. Ini karena bagi saya, sastra merupakan wadah penulisnya dalam mengungkapkan realtias sosial politik yang terjadi pada zamannya. Apalagi Ajip disini menuliskan pengalaman masa kecilnya saat penjajahan masih ada di Indonesia.

Secara umum, kumpulan cerpen ini dibagi atas dua bagian dan di dalamnya terdiri atas beberapa sub judul. Bagian pertama berjudul “Hari-Hari Punya Malam”, sementara bagian kedua berjudul “Hari-Hari Punya Siang”. Bagi saya dalam bagian yang pertama ini, Ajip memaparkan kemelutnya menjadi anak seorang pejuang dalam lima sub judul yang ia tulis. Dalam sub judul pertama yang bertajuk “Kekayaanku”, ia lebih dulu menjelaskan kondisi keluarganya sendiri. Ia dan sang ibunda yang seringkali di tinggal oleh ayahandanya yang sedang bergeriliya menghadapi Belanda pada saat itu. Sementara judul berikutnya yang bertajuk “Di Tengah Keluarga”, disini Ajip mengenalkan keluarga besarnya.

Selain memaparkan silsilah keluarga besarnya, Ajip dalam bab ini juga menuliskan fakta pahit perceraian ibu dan ayahnya. Sehingga pesan sejarah yang dapat saya ambil dalam bab ini adalah perjuangan sang ayah Ajip Rosidi atau geriliyawan pada saat itu memang cukup beresiko. Salah satunya kehilangan keluarganya lantaran sering ditinggalkan untuk berjuang mengusir penjajah. Menuju bab berikutnya yang berjudul “Jati Tak Berbunga Lagi” saya rasa Ajip sedikit banyaknya ingin pembaca mengetahui bagaimana latar kampung halamannya. Setidaknya hal ini dapat diketahui dari mukaddimah yang ia tulis dalam bab ini.

“Sambil menyelesaikan cerita ini, baiklah kuceritakan padamu tentang kotaku, kota kelahiran. Kota di masa aku mulai mengenal hidup, di mana aku pertama kali mengenal udara, melihat sinar matahari, mengerti kata-kata. Kota itu, kota kecil saja, cuma sebuah kota kewedanaan. Terletak di jalan raya Daendels, Cirebon-Bandung. Sembilan puluh dua kilometer dari Bandung, tiga puluh delapan kilometer di sebelah barat kota Cirebon” (hlm 34).

Belakangan kota tersebut saya ketahui bernama Jatiwangi, Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat. Dalam bab berjudul “Jati Tak Berbunga Lagi” ini Ajip memaparkan kekayaan sosial budaya yang ada di kota ini. Ia pula membandingkan kotanya di masa lalu hingga saat ia menuliskannya. Sehingga ia penasaran terhadap nama “Jatiwangi” yang kemudian membuatnya mencari fakta sejarah terkait nama kotanya ini. Lanjut dalam bab “Sepeda”, Ajip kecil menceritakan tentang kesukaannya akan sepeda. Namun dalam hal ini ia memaparkan bagaimana sulitnya membeli sepeda kala itu, begitu pula susahnya ayah tiri dan ayah kandungnya menuruti keinginan Ajip kecil akan sepeda.

Berikutnya dalam bab “Kutukan” ia bercerita tentang kunjungannya ke rumah kelahiran sang ayah kandung. Disinilah Ajip kecil baru mengenal sang ayah yang dikisahkan oleh kakeknya (ayahanda dari ayah Ajip). Akhirnya ia memahami ayahnya lebih dalam sebagai seorang geriliyawan yang gigih tanpa pamrih saat itu. Masuklah kisah pada bagian kedua dengan judul “Hari-Hari Punya Siang”. Bagian kedua ini memiliki empat sub judul yang ditulis oleh Ajib.

Namun menyoal latar waktu, bagian kedua ini menceritakan bagaimana Ajip kecil ditengah penjajahan yang dimulai oleh Jepang. Artinya, latar terjadi saat awal pendudukan Jepang. Ini terlihat ketika ia bercerita dalam sub bab yang bertajuk “Seorang Jepang”, disini sedikit dikisahkan bagaimana kedatangan Jepang pada saat itu. Meskipun akhirnya ia lebih banyak menceritakan ‘Mitsu’ yang merupakan seorang kenpei di kota Jatiwangi. Kedatangan yang pada akhirnya sangat ia harapkan ditengah kondisi umum masyarakat Indonesia saat penjajahan Jepang.

“Jika orang lain ketika itu banyak mengeluh karena kurangnya beras, bukan mahalnya lagi. Kueangnya bahan pakaian dan mengamuknya kutu celana yang putih warnanya, meluasnya penjualan kain dari karet, kami (atas kedatangan Mistu) sangat makmur. Beras banyak, bahan pakaian banyak, kami tak usah pakaian karet atau karung. Kami tak usah makan batang pisang. Kami tak usah setiap pagi berjemur untuk membunuh kutu celana” (hlm 81).

Bab berikutnya berjudul “Temanku Pergi Belajar”. Dalam bab ini, Ajip kecil bercerita soal pengalamannya memiliki sesosok teman sejati saat ia bersekolah. Dalam hal ini ia menuliskan bahwa temannya ini agak berbeda dengan yang lain. Dia menuliskannya bahwa temannya ini seorang perokok yang bau badannya sangat kental dengan bau rokok. Sekaligus ia juga memaparkan bahwa inilah saat pertama kali ia tidak menyukai rokok.

Di bagian akhir cerita ini, Ajip kecil terlihat sangat menyesal lantaran kehilangan temannya ini. Temannya ini pergi lantaran kekangan dari lingkungan Ajip sendiri. Kemudian di dalam bab “Koja” , ia bercerita tentang politik pangan di era penjajahan Jepang pada saat itu. Setiap hari ia bersama nenek sampai mencuri tebu di lahan-lahan perkebunan tebu pada saat itu. Selain politik pangan, ia juga menceritakan bagaimana sistem pertanahan yang terjadi di era pendudukan Jepang. Banyak fakta sejarah yang ia tulis disini, namun meski menderita saat itu ia hanya anak-anak yang kurang memahaminya.***

Ia masih asik bermain dengan teman sebaya. Sampai-sampai di bagian akhir bab ini, ia bercerita tentang pengalamannya mandi di sungai dengan teman sebaya. Yang bagi saya, alangkah sangat sulit menemukannya di era ini. Tibalah di akhir ulasan dalam bab “Hari Ini Aku Punya”. Dalam bab ini, Ajip kecil bercerita tentang kondisi ekonomi masyarakat saat itu.

Saat itu , kondisi ekonomi masyarakat sangat memperihatikankan baginya. Mereka hanya bertani dan bercocok tanam dengan mengandalkan tanah yang sempit. Akan tetapi, mereka bersyukur akan apa yang menjadi beban kehidupannya masing-masing. Ajip tak hanya bercerita tentang keseharian bersama teman sebayanya, ia juga memaparkan bagaimana penduduk ketika panen berlangsung. Bagaimana bersyukur dan bagaimana bergembiranya.

Bagi saya, buku ini layak untuk di baca berbagai kalangan, tak heran jika akhirnya buku ini diadakan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2005. Meski memiliki banyak perubahan, akan tetapi saya rasa karya ini menyuguhkan pesan moral yang amat padat. Pesan moral tersebut antara lain bahwa kemerdekaan kita ini ditempuh atas berbagai penderitaan, akan tetapi karenanya cita-cita luhur kita untuk merdeka tak boleh sekalipun luntur. Uniknya, pesan moral ini dibawakan dengan pengalaman langsung dan cerita masa kecil penulisnya. Sehingga bisa dikatakan selain kaya atas nilai, kumpulan cerpen karya Ajip Rosidi ini kaya akan data yang relevan terkait sejarah perjalanan bangsa Indonesia saat itu.***

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.

Pustaka :

1. Baca biografi Ajip Rosidi di Wikipedia.org link akses :

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ajip_Rosidi