Wilis

Posted by

2019-01-02 04.45.12 1.jpg

Dokumen Pribadi

“Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.”— Tan Malaka [1].

Sekitar dua minggu yang lalu tepatnya tanggal 17 Desember 2018, saya kembali mengunjungi Toko Buku Wilis setelah sekian lama tak pernah terbesit dalam pikiran untuk berburu buku disana. Bukan sebuah keterpaksaan tapi lebih kepada ke sebuah fenomena kebetulan. Karena waktu itu stok novel yang sedang saya buru sedang kosong di kios buku teman saya. Berhubung sudah ada janji untuk mengado sebuah buku kepada salah seorang adik atas prestasinya, akhirnya saya putuskan untuk mencari novel buruan saya sampai ke Toko Buku Wilis. Ya, toko buku yang sudah lama sekali tidak saya kunjungi itu.

Bagi kalangan penikmat buku dari berbagai kalangan, nama Toko Buku Wilis memang selalu punya tempat di hati mereka. Bagaimana tidak, toko buku yang berlokasi di Jalan Simpang Wilis Indah, Gading Kasri, Klojen Kota Malang ini dikenal betul karena hampir menjual beragam jenis buku. Buku yang biasa dijual disini mulai dari buku dongeng anak-anak, buku umum, buku-buku pelajaran sekolah, karya-karya sastra sampai buku diktat perkuliahan. Uniknya, setiap lapak disana pun memiliki ciri khasnya masing-masing terkait jenis buku apa yang mereka jual. Bagi saya, keunikan inilah yang membuat Wilis tetap eksis dikunjungi oleh anak-anak, orang tua, mahasiswa, akademisi bahkan kolektor buku bekas hingga hari ini.

Pemandangan yang sama itu nampak ketika saya sampai di pelataran lahan parkir di depan Toko Wilis. Sama sekali tidak berubah, bahkan saat itu sedang ramai-ramainya penikmat buku berdatangan. Tanpa pikir panjang, saya langsung menuju lapakan mas Aan, lapak paling familiar bagi penikmat buku dari kalangan mahasiswa disana. Ada suatu cerita unik mengenai pertemuan saya dengan lapak beliau, saya mengingatnya betul hingga sekarang. Jujur, waktu itu saya mengenalnya pertama kali ketika saya sedang memburu buku karya Max Weber yang berjudul Teori Dasar Analisis Kebudayaan terbitan Diva Press [2].

Saat itu, waktu sedang menginjak malam hari, sekitar pukul 20.15 WIB saat Wilis sudah mulai sepi. Pertama-tama saya mencari buku ini dengan mengelilingi lapak-lapak yang masih buka. Sepi sekali, sungguh tak seperti biasanya yang ramai dan sesekali tukang lapak disana bertanya — “mas, sedang cari buku apa?” Dari lapak ke lapak saya tanyai, keseluruhan mereka tak menjual buku ini. Padahal bagi saya buku ini penting karena berisi karya-karya Weber yang paling fenomenal, antara lain mencakup “The Protestan Ethic and The Spirit Of Capitalism” , corak pertanian di Jerman Barat dan Jerman Timur.

Intinya berisi karya-karya penting Weber sebagai sumbangan besar atas perkembangan ilmu sosiologi lah. Inilah yang menyebabkan saya bertemu dengan mas Aan. Lapakannya di depan kamar mandi umum yang ada di Toko Buku Wilis. Saat itu beliau sedang membaca sebuah buku sambil mengenakan kacamata dengan kopi di sebelah bukunya. Tanpa pikir panjang saya menanyakan buku yang sedang saya cari waktu itu.

“Mas, ada bukunya Max Weber yang Teori Dasar Analisis Kebudayaan ?” Kata saya.

“Ada mas, kebetulan baru saja re-stock” jawab beliau.

“Harga satuannya berapa mas ya?” Tanya saya to the point.

“Oh ini, saya patok Rp 55.000 mas.”

Wuish bisik saya dalam hati. Alamat saya patah hati lagi dan pulang dengan tangan kosong. Bagaimana tidak, saat itu uang yang saya bawa hanya berkisar Rp 50.000. Ah yasudah, saya memutuskan memakai jurus kejujuran dan tawar-menawar. Jurus ini saya kira ampuh untuk lapak lain, tapi belum tentu untuk mas Aan yang katanya menjual buku-buku asli disini. Jujur, waktu itu saya bimbang.

“Mas, jadi saya bawa uang ini cuma 50.000 pak. Belum lagi untuk bayar parkir.” Kata saya sambil tertawa ringan.

“Memangnya mas dari jurusan apa mas? Harus ya kalau buku ini?” Tanya beliau.

Dalam hati saya heran, tak biasanya ada tukang lapak yang bertanya dengan tutur kata sejauh ini.

“Saya orang dari jurusan keguruan pak, tapi saya tertarik dengan karya Weber. Saya hanya kagum tatkala melihat bukunya terpajang dalam pameran buku di kampus saya. Saya tertarik akan isinya. Isinya yang saya cari merupakan butir-butir inti pemikiran Weber.” Jelas saya.

“Oke, duduk dulu saja mas. Kebetulan lapakan saya sedang sepi. Mau saya buatkan kopi?” Tanya beliau.

“Ah tidak mas, saya mungkin hanya sebentar karena saya sedang terburu-buru.” Saut saya.

“Oh iya, bukunya bisa lah mas kalau saya turunkan menjadi Rp 45.000 buat sampean.” Kata beliau.

“Terimakasih mas.” Kata saya.

Pertama, beliau bercerita tentang keseluruhan bukunya. Bagi saya, tak ada orang se unik ini di lapakan Toko Buku Wilis. Beliau tak hanya mematok harga dan menjual bukunya. Akan tetapi, dia juga membaca dan mendiskusikannya dengan orang lain, khususnya yang paling dia gemari adalah kalangan mahasiswa.

“Jadi mas, besok-besok kalau kesini cari waktu yang senggang. Sore hari atau siang hari bisa.” Jelas beliau.

“Iya mas saya usahakan, tapi rencana saya selesaikan dulu buku ini. Sekali lagi terima kasih pak.” Kata saya.

“Sama-sama mas, ini nomor saya. Jadi kalau kesini lagi bisa hubungi saya. Bisa langsung cari-cari buku yang sudah ada, ataupun pesan buku dari jauh-jauh hari.” Jelas beliau sambil menyodorkan potongan kertas yang berisikan nomor handphonenya.

“Soalnya begini mas, jadi lapakan saya ini sering sekali didatangi oleh aktivis-aktivis mahasiswa dari berbagai organisasi bahkan. Ada dari UB, UNISMA bahkan UMM. Mereka ada yang dari organisasi eksternal seperti HMI, PMII, GMNI namun ada juga yang dari kampus seperti BEM dan Senat, semuanya ada. Kalau mereka kesini saya bahkan sering mengajak mereka berdiskusi dan saya buatkan kopi.” Lanjut mas Aan.

“Oh iya mas, kapan-kapan saya pasti kesini.” Kata Saya.

Begitulah kenangan pertama saya mengenal lapak mas Aan yang saat itu sedang tutup. Namun belakangan saya ketahui beliau tetap di area Toko Buku Wilis, hanya saja pindah lokasi lapakan. Kabar tersebut pun saya ketahui beberapa hari yang lalu, bukan saat saya mencari novel untuk kado. Saat itu, sedang buka lapakan buku di dekat lapak milik mas Aan yang lama, tepatnya di samping Musholla. Kebetulan saat itu lapak ini sedang memberikan diskon ke semua karya sastra, mulai dari puisi, prosa bahkan sampai novel.

Tanpa berlama-lama, saya akhirnya memboyong novel karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Gadis Pantai terbitan Hasta Mitra [3]. Singkat cerita, saya langsung beranjak dari Toko Buku Wilis meskipun dengan berat hati. Seperti biasanya, saya merupakan orang yang merasa paling berat meninggalkan toko buku. Alasan yang paling sering muncul pun masih sama seperti biasanya. Ya, karena saya meilihat buku yang menarik untuk saya baca tapi saya tidak punya uang kalau tidak ya buku yang saya baca belum selesai.

Namun bagi saya, berat hati kali ini lebih dan lebih. Pasalnya yang saya kunjungi adalah Toko Buku Wilis, toko buku yang pertama saya kenal di Kota Malang. Lebih lengkapnya toko buku yang menyimpan banyak sekali kenangan. Mulai dari awal perkuliahan, memasuki dunia aktivisme mahasiswa sampai pada kisah percintaan, semuanya ada di toko ini. Itulah yang membuat nama Toko Buku Wilis selalu mempunyai nilai lebih di mata saya.

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Pustaka :

1. Tan Malaka dalam bab Pendahuluan Materialisme Dialektika dan Logika (Madilog). Bisa dibaca secara online melalui laman marxist.org . Link akses :

https://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/Madilog/Pendahuluan.htm

2. Lihat detail buku Max Weber yang berjudul Teori Dasar Analisis Kebudayaan melalui laman Goodreads. Link akses :

https://www.goodreads.com/book/show/29383435-teori-dasar-analisis-kebudayaan

3. Lihat detail buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Gadis Pantai melalui laman Goodreads. Link akses :

https://www.goodreads.com/book/show/735248.Gadis_Pantai#bookDetails