Maha-Guru

Posted by

dokumen pribadi

Pada 15 November 2018 lalu sebuah pertemuan antara saya dan bang Caesar Firman Aji kembali terjadi. Kali ini, pertemuan benar-benar tanpa sengaja. Tak seperti biasanya yang harus direncanakan paling lambat beberapa jam atau satu hari melalui media komunikasi mutakhir Whatsapp. Saya waktu itu sendiri seperti biasanya, duduk di bangku paling pojok ruang kedua dari warung kopi langganan saya, Enzo kopi. Dari kejauhan bang Caesar makin mendekat dan lewat disamping saya sambil berkata ;

“Sedang apa le?” Tanya dia.

“Biasa mas sedang nulis, butuh ruang sendiri.” Jawab saya.

“Nanti saja, kesinilah disitu angin tidak bisa masuk. Panas.” Katanya.

Dalam hati memang saya sedang membutuhkan sebuah pandangan baru dalam karya tulis saya. Oke lah baik, batin saya dalam hati sambil langsung menyasar ke meja beliau. Saya membuka obrolan dengan balik bertanya tentang apa yang akan ia lakukan disini.

“Sampean sendiri sedang apa disini ?” Tanya saya membuka obrolan.

“Oh aku, aku sedang menyelesaikan skripsi. Ada beberapa bagian yang wajib dikenai revisi cuk.” Jawab bang Caesar.

“Oh iya iya, wisuda rek.” Kata sya dengan sedikit menghibur.

“Ya, iyalah. Lah kok tumben sendiri? Mana teman perempuanmu?” Tanyanya balik.

“Sedang tidak bisa mas, lagi di Batu.” Jawab saya.

“Kenapa tidak ajak kader-kader, dinda-dindamu?” Tanyanya lanjut.

“Entah mas kalau itu, sudah susah. Yang sering ku obrolkan dengan mereka berbeda. Alangkah lebih baik jika tidak melibatkan mereka sama sekali.” Jawab saya.

“Loh berbeda bagaimana? Hmm sek cerita-cerita!” Sautnya.

Saya cuma bisa tersenyum-senyum dan patah-patah menjawab hal ini.

“Yaa, begini mas. Memang susah kadang mereka itu. Okelah kadang diawal mereka nyambung dengan apa yang ku obrolkan. Itu pun hanya di menit-menit awal kita ngobrol, sisanya mereka diam, ada yang game bahkan ada yang malah memutuskan bermain game.” Saya menceritakannya singkat.

“Lalu yang kamu harap bagaimana?” Tanya bang Caesar lanjut.

“Ya minimal ada feedback lah mas. Kan ini masalahnya ngopi, momentum pertukaran ide. Minimal kalau tidak bisa menimpali pendapat saya ya mereka belajar. Tapi ini tidak, bagi saya hanya buang-buang waktu, tenaga bahkan uang.” Jawab saya spontan.

“Kalau logikamu transaksional begini, lalu kenapa aku masih mau ngopi denganmu?” Tannya bang Caesar dengan raut wajah yang sudah berubah naik pitam.

“Tidak tahu mas, kan alasannya sampean yang tahu.” Jawabku singkat.

“Begini loh le, kamu tidak bisa terus seperti ini. Aku kalau pun ngopi sama kamu mana pernah ada feedback? Kamu yang belajar soal agraria, anggaran, pemerintahan, korupsi dan lain-lain. Kalau ketemu aku? Ya aku bisa bilang kamu masih belajar pada fase dasarnya saja. Kalau boleh tanya jika dibandingkan dengan apa yang sudah kupahami ya sangat jauh. Makannya mana pernah aku bertanya terkait apa yang tidak ku pahami mengenai apa yang sedang kupelajari?” Jawabnya dengan nada yang masih tinggi.

“Iya mas, memang aku ini tidak bisa apa-apa.” Kata saya sambil berpikir dalam hati.

“Kalau kamu ingin tahu kenapa sampai hari ini aku masih mau untuk sekedar ngopi dengan kamu ya karena ada konektivitas yang menurutku cocok. Ngopi tidak harus seserius itu. Aku hanya ingin kamu dengarkan ceritaku, itu saja. Karena aku paham yang sudah ku klaim sebagai saudara (adik) di Malang ini ya dirimu.” Bang Caesar menjelaskan.

Saya terdiam dan obrolan itu tidak bersaut sama sekali. Krik-krik, aku kalah dalam hal ini. Terus saja demikian. Hanya setelah beberapa menit berikutnya yang saya ucapkan hanyalah satu kalimat, terimakasih dengan beberapa penyesalan yang seharusnya memang saya ucapkan.

“Terimakasih mas, memang dalam hal ini saya begitu naif. Aku belum sebijaksana itu. Tapi sekali lagi terima kasih. Aku akan mencobanya setelah ini.” Jawab saya dengan nada yang merendah.

“Jangan pernah menyombongkan diri, bahkan sampai berharap imbalan apapun kepada orang lain. Apalagi terkait ilmu le. Eman, kamu seorang organisatoris, kepala bidang, pengurus komisariat. Jargon kita iman, ilmu dan amal. Itulah pride yang harus terus kamu rawat dan jaga.” Jelas bang Caesar.

“Iya mas, yossshh terimakasih.” Saut saya dengan riang untuk mengembalikan suasana.

“Taik, sekarang mau nulis apa memang?” Tanyanya balik.

“Essay soal hak asasi manusia mas.” Kata saya.

Obrolan kami berlanjut dengan pembahasan terkait tema yang akan saya tulis dalam kompetisi yang diadakan oleh BEM UMM. Di akhir diskusi kita ada yang akhirnya saya pahami terkait topik ini begitupun benang merah dari keseluruhan tema yang akan saya angkat. Berbicara soal HAM di Indonesia rupa-rupanya sudah dijamin secara utuh baik hak hidup, hak keadilan ekonomi, sosial bahkan politik. Bahkan , Indonesia merupakan salah satu negara yang meratifikasi Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik melalui UU No 12 tahun 2005 tentang Pengesahan Konvenan Internasional Hak Sipil dan Politik. Maka berangkat dari fakta yang terjadi di lapangan yakni pelanggaran HAM yang masih kerap terjadi, saya rasa disebabkan oleh tidak ada penjaminan berupa kontrak dengan pejabat negara. Saya tanyakan lebih lanjut kepada bang Caesar.

“Mas setuju tidak kalau dalam urusan yang kita bicarakan ini, aku mengangkat tema agar bagaimana masyarakat sipil mampu membuat kontrak penjaminan HAM?” tanya saya.

“Nah itu bisa, kan masalahnya memang disitu le. Bahwa oke lah HAM dijamin secara tekstual oleh negara lewat peraturan perundangan, akan tetapi dalam mekanisme implementasinya? Kontrak itu bagus apalagi era pemilu seperti ini, kalau janji politik tanpa kontrak politik kan nihil. Fenomena RANHAM misalnya. Untuk rule dan bagaimana polanya kamu bisa tanya ke Ardan.” Jelas bang Caesar.

“Siap mas, mantab.” Jawab saya singkat.

Tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk bertanya kepada Mas Ardan, seorang pegiat sosial yang konsen dalam elemen masyarakat anti korupsi di Kota Malang. Setelah memahaminya dengan baik saya menyelesaikan essay yang kurang lebih memakan waktu 4 hari tersebut. Puji syukur, essay saya pun masuk nominal 12 karya terbaik saat pengumuman lomba bertanggal 15 Desember kemarin. Meskipun tidak masuk sebagai kategori juara 1, 2 maupun 3. Tapi tak apa, bagi saya itu sudah merupakan pencapaian terbaik.

Dalam hal ini akhirnya saya sadar terkait apa yang saya tanyakan di judul. Saya bertanya, dapatkah kita benar-benar berguna walaupun bekerja seorang diri? Jawabannya tidak. Manusia akan selalu membutuhkan objek material di sekitarnya baik manusia, hewan dan seluruh alam raya. Objek material disini penting, lantaran mampu mendorong produktivitas manusia dalam berbagai aspek kehidupan melalui usaha-usaha produktifnya. Berikutnya saya akan semakin mencoba terbuka dalam berbagai macam orang dan berbagai hal yang lainnya.

Terima kasih Bung Caesar dan Bung Ardan serta semua yang telah mendukung saya dalam hal ini. Ini merupakan piala kita semua, bukan saya secara pribadi.

instagram.com/bemumm

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang