Malamnya Malioboro

Posted by

Dokumen Pribadi

Malioboro, Yogyakarta 16 Agustus 2018 menurut saya memiliki cerita yang cukup menarik untuk sama-sama menyinggung permasalahan yang belakangan ini terjadi. Pada malam itu, Malioboro menjadi tujuan akhir dari sebuah program kunjungan akademik oleh prodi tempat saya berkuliah. Banyak dari kawan-kawan lebih memilih untuk berbelanja, mencarikan oleh-oleh khas Kota Yogyakarta untuk keluarga dirumah malam itu. Akan tetapi saya memutuskan untuk berbeda seperti biasanya, toh yang paling ditunggu oleh orang rumah tidak lain dan tidak bukan adalah “cerita”. Saya lebih memutuskan untuk mencari kopi arang dengan mengajak salah satu teman duduk saya dalam perhelatan yang memakan waktu hingga lima hari tersebut. Teman saya itu bernama Wisnu.

Bagi saya , inilah saluran saya yang paling konkret untuk membuka sebuah obrolan bersamanya. Pasalnya kawan saya yang satu ini amat tertutup. Ia hanya akan terbuka ketika ia meminta saya untuk sekedar menemaninya saat ada permasalahan mengenai bayar membayar di birokrasi kampus. Kebetulan waktu itu kami sama-sama tidak berpikir sama sekali untuk mencari oleh-oleh khas dari Kota Yogyakarta. Tanpa pikir panjang waktu bus berhenti kami memutuskan untuk turun dan mencari angkringan yang menyediakan kopi arang.

Waktu yang diberikan oleh pihak travell waktu itu hanya satu jam setengah. Habis karena kami tersesat selama sekitar 40 menit, padahal saat itu kami menggunakan Google Map untuk mencari keberadaan kedai kopi arang. Hampir putus asa, namun pada akhirnya saya menemukannya. Di sebuah gang kecil samping rel kereta api banyak berjejeran angkringan yang menyediakan kopi legendaris khas Kota Yogyakarta tersebut. Kondisi waktu itu sangat ramai, pemuda-pemudi duduk membaur di trotoar jalan. Saya rasa inilah pemandangan yang cukup unik dan tidak pernah saya jumpai sebelumnya.

Kami pun duduk dan menunggu pesanan. Pesanan kami kemungkinan besar akan memakan waktu cukup lama lantaran saat itu angkringan sedang ramai-ramainya. Tanpa berpikir panjang, saya langsung membuka obrolan dengan teman saya yang berasal dari Kota Banyuwangi ini. Saya bertanya tentang hal-hal yang sedang viral di kota kelahirannya, yakni tentang gerakan sosial warga Banyuwangi penolak Tambang Emas Tumpang Pitu. Kebetulan teman saya ini berasal dari Kecamatan Muncar yang kalau katanya sangat dekat dengan Kecamatan Pesanggaran, lokasi Gunung Tumpang Pitu.

Ia mengetahui bahkan sempat mengatakan hampir seluruh warga Banyuwangi mengetahui dan menolak adanya rencana penambangan emas yang ada di Tumpang Pitu. Ia pertama kali mengetahui hal ini dari ayahnya yang bekerja sebagai sopir truk pengangkut alat berat ketika ada proyek tambang. Bahkan ia mengatakan bahwa dulu sebelum konflik terjadi, ayahnya merupakan salah satu sopir yang mengangkut alat berat ke lokasi tambang. Namun itu tak bertahan lama, karena ayahnya pun merasakan apa yang dirasakan oleh warga di sekitaran tambang. Bahwa lagi-lagi tambang ini menyisakan banyak ancaman mulai dari kerusakan lingkungan hingga ancaman bencana.

Bagi saya, cerita ini hampir sama seperti apa yang saya baca dari keterangan masyarakat penolak Tambang Emas Gunung Tumpang Pitu di beberapa media. Dalam obrolan tersebut saya sedikit menimpalinya dengan guyonan, bahwa tambang ini merupakan tambang emas yang kemungkinan besar bisa meningkatkan perekonomian masyarakat Banyuwangi. Namun alangkah kagetnya saya ketika ia bercerita bahwa dari apa yang dialami oleh ayahnya tidak seperti apa yang saya katakan dalam guyonan tersebut. Wisnu berkata bahwa sekitar tahun 2000-an, ayahnya pernah bekerja untuk mengangkut alat berat ke lokasi tambang emas PT Freeport McMoRan yang berlokasi di Papua. Ketika kepulangan sang ayah, ia banyak mendengar cerita kondisi warga di sekitaran tambang yang sama sekali jarang di pikirkan oleh semua orang.

Keadaan masyarakat di sekitar tambang sangat memprihatinkan kata ayahnya. Selain itu medan disana cukup berat karena masih di dominasi oleh hutan-hutan lebat. Ia juga bercerita bahwa ayahnya sampai sempat mengalami kecelakaan kerja saat mengangkut alat berat di tengah hutan. Kemudian obrolan kami waktu itu terselat oleh datangnya kopi arang pesanan kami. Di akhir cerita saya langsung tembak kawan saya sebagai masyarakat asli dari Kota Banyuwangi, apakah dia akan ikut menolak atau menerima tambang emas tersebut. Ia menyatakan bahwa selama tambang itu mengancam keadaan masyarakat dan tidak berdampak apapun bagi kesejahteraan masyarakat lokal, maka ia akan menolaknya.

Obrolan kami beralih topik, diiringi lagu “Di Sayidan” karya Shaggy Dog sebuah band SKA asal Yogyakarta yang waktu itu sedang dimainkan oleh pengamen jalanan di samping kami. Namun waktu telah menunjuk pada jam yang telah kami (rombongan) sepakati bersama pihak travel. Sehingga kami memutuskan untuk kembali ke bus dan beranjak pulang ke Kota Malang. Cerita singkat dari Kota Yogyakarta ini memang sengaja saya angkat kembali sebagai bentuk solidaritas berupa dukungan moril terhadap bapak-ibu, teman-teman yang sedang memperjuangkan kelestarian lingkungan di Kota Banyuwangi maupun di tempat lainnya. Ini dikarenakan, perjuangan tersebut cukup sulit dan tak jarang berakhir pada ancaman dengan berbagai pola.

instagram.com/jatamnas

JATAM (Jaringan Advokasi Tambang) melalui sebuah inforgafis merilis bahwa sepanjang tahun 2011-2018 terhitung ada 18 kasus kriminalisasi dan serangan maksimum berupa penembakan dan pembunuhan yang menyasar 81 warga penolak tambang. Salah satunya kasus pembunuhan aktivis penolak tambang pasir ilegal di desa Selok Awar Awar Kabupaten Lumajang, Salim Kancil pada tahun 2015 silam. Kasus kriminalisasi Basuki Wasis dan Bambang Heru, Sawin dan Sukma penolak PLTU Batu bara hingga kasus yang kini menjerat aktivis penolak tambang emas di Gunung Tumpang Pitu yakni Budi Pego. Diketahui, Budi Pego ditahan kembali dengan masa penahanan yang lebih berat yakni selama 4 tahun karena dituduh menyebarkan Marxisme-Leninisme saat ia menggelar demonstrasi bersama masyarakat untuk menolak aktivitas tambang emas milik PT Bumi Suksesindo (BSI) di Gunung Tumpang Pitu pada 4 April 2017. Bagi saya, kasus ini sangat berbau konspirasi pasalnya hingga saat ini barang bukti berupa spanduk “palu arit” tidak pernah muncul dalam proses persidangan begitupun dengan saksi mata yang menyaksikan Budi Pego membawa spanduk palu arit [1].

Fakta konspirasi untuk mengkriminalisasi Budi Pego juga sangat kontras terlihat ketika kita membaca wawancara antara Budi Pego dan aktivis Human Right Watch (baca mongabay, 2018) [2].

Penutup

Cerita ini saya buat dengan sebagaimana mestinya, tanpa dikurangi bahkan ditambah-tambahkan. Saya persembahkan cerita ini sebagai bentuk solidaritas dan keprihatinan akan maraknya upaya terror dan intimidasi terhadap aktivis pejuang lingkungan, terkhusus pola terbaru yang menjerat Budi Pego. Terlebih keprihatinan atas kemesraan negara (state) dengan pasar (market) sebagai ikon kekuasaan modal dan seringkali mengorbankan masyarakat sipil. Negara tak lebih seperti kopi arang yang saat itu saya pesan memang dalam keadaan pahit, manis dalam konstitusi tapi pahit dalam mekanisme implementasinya. Undang-Undang tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Nomor 32 Tahun 2009 (UU PPLH) pasal 66 menyatakan menyatakan bahwa setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat dituntut secara pidana maupun digugat secara perdata, maka jelas bahwa seharusnya negara melindungi aktivis pejuang lingkungan seperti Budi Pego dengan membebaskannya demi kelanjutan dan kelestarian Gunung Tumpang Pitu di Banyuwangi!

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Rujukan :

1. Baca Alaidrus, Fadhiyah. 2018. ” Kuasa Hukum Budi Pego Minta Penundaan Eksekusi Atas Vonis 4 Tahun”. Jakarta : tirto.id
Link akses :
https://tirto.id/kuasa-hukum-budi-pego-minta-penundaan-eksekusi-atas-vonis-4-tahun-dbvc

2. Baca wawancara Budi Pego dengan Andreas Hartono ( Peneliti Human Rights Watch Indonesia) di mongabay.co.id .
Link akses :
http://www.mongabay.co.id/2018/11/22/cerita-budi-pego-soal-spanduk-komunis-siluman-di-aksi-tolak-tambang-tumpang-pitu/