Review Film Bomb City (2017) : Kisah Pembunuhan Punk karena Perbedaannya

Posted by

IMG_20181120_164405

kredit ilustrasi : instagram.com/bombxcity

Judul : Bomb City
Rilis : 31 Maret 2017
Genre : Kriminal, Drama.
Perusahaan produksi : Identitas ke-3.
Distributor : Gravitas Venture
Pemeran: Dave Davis, Luke Shelton, Glenn Morshower, Logan Huffman, Lorelei Linklater, Eddie Hassell, Henry Knotts, Maemae Renfrow, Dominic Ryan Gabriel, Marilyn Manson.
Sutradara editor: Jameson Brooks
Penulis naskah: Sheldon R. Chick, Jameson Brooks.
Produser: Sheldon R. Chick, Mayor Dodge.
Produser eksekutif: Steve Silver, Chad Cunningham, Libby Hunt, Norman Preskitt.
Direktur fotografi: Jake Wilganowski.
Desainer produksi : Adam Dietrich
Perancang kostum : Terri Prescott
Penggubah : Cody Chick, Sheldon R. Chick.
Sutradara casting : Mayor Dodge.

Sinopsis

Bomb City (2017) merupakan film drama kriminal, tentang keengganan budaya dari sekelompok punk rocker di kota Amarilo, Texas yang konservatif. Pertempuran mereka yang berkelanjutan dengan tandingan yang lebih makmur, mengarah pada kejahatan kebencian kontroversial yang mempertanyakan moralitas keadilan Amerika yang kemudian di tulis oleh saksi hidup yakni sang sutradara James Brooks dibantu oleh Sheldon R . Chick [1].

Isi Film Secara Singkat

Secara umum film ini mengambil latar waktu tahun 1997 yakni tahun ketika tragedi naas menimpa salah satu pemuda Amerika, Brian Deneke. Alur film ini bisa di bilang maju mundur. Pada awal film penonton akan di bawa ke dalam suasana pengadilan terkait pembunuhan Brian Deneke yang kemudian dilanjutkan dengan aktivitas Brian sehari-hari diiringi oleh backsound wawancara Marlyn Manson dalam “Speech Of the Blame”.

“Apa kabar New York? Aku memilih terus terang denganmu, karena menurutku kita terbiasa untuk mendengarkan orang saat mereka dalam bentuk apa adanya. Lagipula ini juga di Hollywood, disini adalah tempat kita memberi apa yang orang inginkan. Kekerasan, kurasa itu yang tampaknya akan terjadi. Yang aku ingin bicarakan pada kalian hari ini, tapi tidak ingin berceramah. Aku hanya ingin lebih mengajukan beberapa pertanyaan. Menurutku aku cenderung menjadi kambing hitam, menurutku kita sebaiknya bicara tentang menyalahkan. Saat ini orang-orang ingin menyalahkan musik, mereka ingin menyalahkan film-film, tapi kau tahu? Kita lupa jika kita punya orang mati yang tergantung di ruang tamu kita. Itu yang kita sembah seumur hidup kita, jika kau pikir salib sebagai barang dagangan massal dalam sejarah dunia, aku selalu merasa itu cukup menarik. Kita tak pernah duduk dan bicara tentang yang ada di berita, juga tak pernah bertanya saat orang dewasa melakukan tindak kekerasan tak manusiawi yang bahkan mereka tak tahu alasannya kenapa. Itu hanya saat anak-anak yang melakukan kekerasan. Tapi, menurutku apa yang mulai membuat orang bingung saat ini, dan kenapa kita dalam kekacauan saat ini. PC, omong kosong, ketegangan, itu anak remaja kulit putih. Itu permasalahan sebenarnya, kenapa mereka marah? Mereka kelas menengah, mereka kulit putih, mereka manja. Apa itu karena mereka tahu Amerika adalah kebohongan? Apa itu karena mereka ingin merasa tak pernah cukup baik, kau tahu? Kau tak pernah cukup baik untuk beasiswa, untuk mobil, untuk wanita. Tak pernah cukup terkenal selama 15 menit. Lalu apa kita terkejut kenapa mereka marah? Atau kenapa mereka berakhir mati? Kenapa kekerasan? Karena kau tahu itu perbuatanmu Amerika. Apa yang kau harapkan?” – Marilyn Manson.

Setelah memperlihatkan keseharian Brian, masuklah film ke dalam bagian inti yang memperlihatkan bagaimana kehidupan Brian dalam komunitas Punk yang ada di Amarillo begitupun sebaliknya dengan kehidupan Cody Cates (nama asli Dustin Camp) bersama para koleganya “The Preps”. Pada bagian ini penonton akan dibawa untuk memahami perbedaan yang cukup bertolak belakang soal kehidupan dua kelompok tersebut. Perbedaan yang terjadi tidak hanya dalam kehidupan saja, bahkan perlakuan di mata hukum bisa dikatakan berbeda. Kelompok Brian, mereka tak jarang mengalami diskriminasi hukum sementara Cody dan The Preps mereka lebih leluasa bertingkah pola, bahkan bertindak rasis kepada kelompok Brian lantaran hukum selalu tidak berlaku bagi mereka. Singkat cerita, pada akhirnya The Peeps mendatangi markas kelompok Brian dan menyerangnya.

Hingga saat itu King sebagai salah satu teman Brian yang ada ditempat, sudah tidak bisa menahan kekesalan. Dia memutuskan untuk mendatangi markas The Preps seorang diri. Naas, dalam kedatangannya ia dikroyok habis-habisan dan mobilnya pun dirusak. King memutuskan untuk pulang ke markas dengan kondisi babak belur dengan berjalan kaki. Sesampainya di markas, King bertemu dengan Brian yang baru datang bersama kawan, kekasih dan juga kakaknya. Karena ambisi King untuk membalas The Preps, pada akhirnya Brian bersama 3 orang tadi memutuskan untuk bersama-sama membuat pernyataan kepada The Preeps.

Disinilah puncak tragedi itu terjadi, Brian dan kelompok punknya datang dan langsung menyerang The Preeps. Secara perbandingan terlihat sekali bahwa mereka kalah jumlah, akan tetapi bagi mereka itu penting lantaran seperti kata King kepada Brian sebelum keberangkatan mereka.

“Sampai kapan kita diam? Sementara kita semakin tidak punya ruang.” Ujar King.

Ditengah kondisi chaos, datanglah Cody Cates bersama dua orang temannya yang sedang menendarai mobil Cadillac mirip ayahnya. Meski telah dicegah teman-temannya, Cody tanpa berpikir panjang langsung menabraki satu persatu anggota Brian. Terakhir akibat Brian yang terlepas dari keramaian , Cody langsung terfokus untuk mebgejar Brian dengan kecepatan penuh. Naas ia ditabrak dan dilindas oleh Cody dengan sekejap. Brian akhirnya menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan yang mengenaskan.

Film dilanjutkan dengan adu argumentasi antara beberapa saksi dan dua advokat dari keluarga Brian juga Cody dalam pengadilan yang diperlihatkan sesaat di awal film. Seperti dihakimi kembali, Brian dinyatakan layak untuk dibunuh oleh Cody akibat kesalahannya dalam berpakaian. Membunuh Brian bagi pengacara Cody, merupakan sebuah kebenaran lantaran ia menggunakan pakaian dengan emblem album band punk asal Amerika The Filth yang bertuliskan “Destroy Everything”. Kemudian berlanjut dengan pemaparan fakta setelahnya, bahwa tahun 1999 Cody dinyatakan tak bersalah, juri mendakwa atas pembunuhan tidak sengaja. Ia dihukum masa percobaan dan denda 10.000 USD, namun dendanya pun akhirnya di batalkan.

Film ditutup dengan kelanjutan Speech Of The Blame oleh Marilyn Manson dengan beberapa dokumentasi atas karya Brian, baik ketika dia bekerja kepada Stanley Marsh sebagai dalam pembuatan Museum Dynamite maupin foto-foto pribadinya.

“Salah satu cerita yang membuatku teringat dan berpikir beberapa tahun lalu, ada anak remaja punk yang dilindas oleh atlet sekolahan kulit putih dengan mobil Cadillac milik ayahnya. Anak ini tewas karena dia terlihat berbeda, hal ini terjadi dan anak ini pembunuhnya. Itu jelas bersalah, dia pun mengakui kesalahannya. Tapi tebak dimana atlet All Amerika sekarang ? Mereka kuliah. Juri merasa anak punk itu pantas untuk mati, karena terlihat urakan. Tak hanya dibunuh ditempat, bahkan di persidangan dia dibunuh lagi karena mereka mengkritik gaya hidupnya yang tidak menggunakan kemeja Tommu Hilfiger dan celana kain. Lalu pembunuh itu mendapat bertepuk tangan saat kelulusan, karena dia bintang football, mimpi Amerika yang kuat dan normal. Dia tak pernah seharipun dipenjara. Jadi siapa yang kita salahkan kau tahu? Semua ingin berkata “terlalu banyak kekerasan, terlalu banyak kekerasan saat ini.” Tapi apa semua orang lupa dengan perang sipil Alkitab atau Shakespeare? Kekerasan bukan hal baru. Itu sebabnya aku bertanya dan ku tampilkan ini di situs webku. Kubilang, “apa orang dewasa terhibur membunuh anak anaknya?Atau membunuh anak2 kita menghibur orang dewasa?” Menurutku itu hal yang harus kita tanyakan saat ini. Dan ya tanyakan dirimu setiap kali kau menonton kamera jurnalis di tempat kejadian atau di pemakaman saat pesawat jatuh. Aku akan jujur ini, kau menatapku, aku melihat diriku sendiri di monitor. Kau tahu? Kita duduk di depan tv dan kita adalah tv kita tiruan yang menatap sebuah tiruan pada tiruan dan tiruan. Pada akhirnya Xerox yang mengalami penurunan. Kita tak tahu mana yang duluan. Disanalah kita saat ini, dan aku akan serahkan itu padamu.” – Marilyn Manson.

“Akhir 1990 an Brian Deneke dan teman-temannya membantu membawa proyek seni urban terbesar dalam sejarah AS. Itu dikenal sebagai Museum Dinamit. Hari ini, lebih dari 3000 papan tanda unik tetap dipajang dilingkungan sekitar kota Amarillo, Texas”.

Interpretasi Keseluruhan Film

Sebagaimana film pada umumnya, ia merupakan produk budaya pop abad ke 20 yang memberikan ruang interpretasi bagi penikmatnya. Interpretasi terhadap film pun bisa dikatakan relatif subjektif dan berbeda-beda. Hal ini dikarenekan film merupakan wadah yang memuat sebuah pesan secara eksplisit (tersirat) sehingga interprestasi penikmatnya terkadang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Mengenai tampilan film ini sudah cukup bagus lantaran menggunakan resolusi tinggi. Ceritanya pun menarik lantaran mengangkat kisah nyata kasus pembunuhan Brian Deneke, seorang punk asal Kota Amarilo, Texas Amerika Serikat.

Yang lebih menarik lagi bagi saya yakni bagaimana film ini mampu menyiratkan bentuk kritik yang begitu besar kepada Amerika Serikat saat ini. Mulai dari judul yang menggunakan “Bomb City” atau Kota Bom. Setelah saya mencari banyak review tentang film ini, kebanyakan tak pernah menyadari bahwa film ini juga mengkritik AS yang menggunakan Kota Amarillo sebagai komplek ‘Pantex Plant’ yang merupakan satu dari enam fasilitas utama untuk tempat perakitan dan pelucutan senjata nuklir. Ditengah ketegangan dunia yang makin terjadi belakangan ini (baca berdikarionline, 2016 ), tentu Amarillo merupakan kota yang sangat rentan ketika AS menyatakan perang dengan negara lain [2]. Ketakutan akan kerentanan ini terlihat ketika kakak Brian Deneke menyatakannya di pertengahan film.

“Banyak plutonium yang tersisa di bawah kota bom ini, apabila kita ingin menyerang Amerika bukankah kita harus menyerang senjatanya yang paling rentan lebih dulu ?”

Selain itu, misalnya ketika kita mencari versi full dari Speech Of The Blame oleh Marliyn Manson. Mungkin akan lebih menarik lantaran Marliyn Manson banyak mempertanyakan sejauh mana moralitas AS dalam menanggapi seluruh kekerasan yang terjadi [3]. Maka saya katakan film ini layak untuk ditonton semua orang, terutama mengingat Indonesia yang banyak sekali dengan komunitas subkultur (punk). Bagaimana kita memandang mereka? Apakah yang kita pikirkan sama dengan apa yang mereka pikirkan? Alangkah lebih baik kita semeja dan berbicara dari hati ke hati, itulah tabayyun yang manusiawi.

Penulis Faris Fauzan Abdi, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Rujukan :

1. Bomb City dalam Internet Movies Database (IMDb) link akses :

https://m.imdb.com/title/tt4351548/

2. Baca Noam Chomsky dalam Berdikari Online tahun 2016 yang berjudul “Chomsky Peringatkan Bahaya Perang Nuklir”. Link akses :

Chomsky Peringatkan Bahaya Perang Nuklir

3. Baca MistWeaver yang menarasikan video Marilyn Manson dalam Speech Of The Blame. Link akses :

https://www.celestialheavens.com/forum/6/5332
Note : Baca juga keseluruhan cerita yang ditulis oleh Pamela Collof di Texas Monthly link akses :

https://www.texasmonthly.com/articles/the-outsiders/